JAWA TENGAH — Kepolisian Resor Probolinggo memastikan peristiwa begal yang dilaporkan Nugroho pada Senin (1/6) malam tidak pernah terjadi. Kapolres Probolinggo AKBP M. Wahyudin Latif mengungkapkan, cerita tersebut dibuat untuk menutupi aksi pelapor yang menjual sepeda motor milik ayahnya seharga Rp1,5 juta.
Uang Hasil Penjualan Dipakai Kebutuhan Sehari-hari
Menurut Kapolres, motif ekonomi menjadi alasan Nugroho merekayasa laporan. "Yang bersangkutan sudah mengakui secara sadar dan tanpa adanya tekanan dari pihak mana pun bahwa kejadian tersebut direkayasa karena adanya permasalahan ekonomi dalam keluarga," ujar Wahyudin, Kamis (4/6).
Uang hasil penjualan motor ayahnya itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Setelah menjual kendaraan, Nugroho menciptakan skenario seolah-olah ia menjadi korban begal di kawasan Makam Pahlawan Sidomukti, Kraksaan.
Kejanggalan Luka Jadi Celah Penyelidikan
Polisi mulai curiga saat memeriksa luka yang dialami Nugroho. "Dari hasil pemeriksaan dan observasi di lapangan ditemukan sejumlah kejanggalan karena luka yang dialami korban tidak sesuai dengan kronologi pembegalan yang disampaikan," kata Wahyudin.
Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, Nugroho mengakui seluruh cerita pembegalan merupakan rekayasa. Ia juga menyampaikan permintaan maaf kepada kepolisian dan masyarakat Probolinggo atas laporan palsu yang sempat menimbulkan keresahan.
Warga Sempat Cemas, Polisi Imbau Verifikasi Informasi
Kapolres mengakui kabar pembegalan yang beredar luas di media sosial dan grup WhatsApp sempat memicu kekhawatiran warga. "Banyak warga yang merasa cemas terhadap kondisi keamanan, khususnya di wilayah Kabupaten Probolinggo," ujarnya.
Wahyudin mengimbau masyarakat agar lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Ia juga mengingatkan pentingnya memberikan keterangan jujur kepada aparat penegak hukum agar proses penanganan perkara berjalan baik dan tidak menimbulkan dampak negatif bagi publik.