BANJARNEGARA — Iuran yang dikoordinasikan para ketua RT dan RW itu terkumpul sekitar Rp75 juta hingga Rp80 juta. Sebagian warga bahkan menyetor hingga Rp500 ribu, di luar kesepakatan awal Rp75 ribu per kepala keluarga.
Selain dana tunai, panitia pembangunan menerima bantuan material dari donatur berupa semen, batu bata, dan besi senilai Rp30 juta hingga Rp40 juta. Sumbangan material itu belum menutup total kebutuhan pembangunan balai desa.
Balai Desa Lama Lapuk Sejak 2013
Kepala Desa Klapa Safrudin menyebut kondisi balai desa lama sudah memprihatinkan sejak 2013–2014. Saat itu, alokasi anggaran lebih diprioritaskan untuk infrastruktur jalan.
Kondisi kian pelik ketika mulai 2018 aturan Dana Desa tak lagi memperbolehkan pembangunan fisik balai desa. Pemerintah desa mengaku sudah mengajukan bantuan ke pemerintah daerah hingga tahap survei dan pengukuran lokasi, tetapi belum ada realisasi hingga sekarang.
Dampaknya dirasakan langsung perangkat desa. "Saat musim hujan, perangkat desa yang bertugas bahkan terpaksa memakai helm karena khawatir atap bangunan runtuh," ujar Safrudin.
Pelayanan Desa Tiga Tahun Menumpang di Gedung Pengajian
Selama tiga tahun terakhir, pelayanan pemerintahan desa terpaksa menumpang di gedung pengajian Muslimat. Fasilitas itu dinilai belum memadai untuk pelayanan publik sehari-hari warga.
Ketua BPD Desa Klapa Khafid menjelaskan, respons warga terhadap iuran mandiri sangat positif. "Warga sangat mendukung karena menginginkan balai desa yang representatif. Selain dana tunai, kami juga menerima bantuan material berupa semen, batu bata, dan besi senilai Rp30 juta hingga Rp40 juta dari para donatur," jelas Khafid.
Dana Swadaya Belum Cukup, Bantuan Pemda Dinanti
Dana sekitar Rp75 juta hingga Rp80 juta ditambah material senilai Rp30 juta hingga Rp40 juta belum mencukupi total kebutuhan pembangunan. Pemerintah desa berharap bantuan dari pemerintah daerah yang sudah diajukan dapat segera terealisasi.
Pembangunan balai desa baru menjadi prioritas warga agar pelayanan administrasi tidak lagi menumpang dan perangkat desa tak lagi bekerja dalam ancaman atap runtuh saat hujan.