Pencarian

Komdigi Bantah Batasi Konten Karhutla, Sebut Moderasi Hak Platform

Selasa, 20 Oktober 2026 • 19:46:31 WIB
Komdigi Bantah Batasi Konten Karhutla, Sebut Moderasi Hak Platform
Direktur Pengendalian Ruang Digital Komdigi Safriansyah Yanwar Rosyadi membantah pemerintah meminta platform membatasi konten karhutla.

JAWA TENGAH — Kementerian Komunikasi dan Digital menegaskan tidak pernah meminta platform membatasi atau menurunkan konten kebakaran hutan dan lahan. Bantahan muncul setelah influencer melaporkan penurunan jangkauan drastis pada unggahan soal karhutla. Komdigi meminta dugaan shadowban ditelusuri berdasarkan fakta dan dikonfirmasi langsung ke platform.

Direktur Pengendalian Ruang Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Safriansyah Yanwar Rosyadi, menyatakan pihaknya tidak memiliki instruksi apa pun soal pembatasan konten karhutla. Pernyataan disampaikan kepada detikINET, Selasa (20/10/2026), menanggapi ramainya keluhan netizen soal jangkauan unggahan yang menurun.

Menurut Safriansyah, keputusan soal tampil atau tidaknya sebuah konten berada di tangan masing-masing platform. Komdigi, katanya, tidak mengajukan permintaan penurunan konten kepada penyedia layanan digital.

Apa yang Sebenarnya Dituduhkan Netizen

Isu shadowban mencuat setelah sejumlah influencer mengaku mengalami anomali di akun media sosial mereka usai mengunggah konten karhutla. Istilah shadowban merujuk pada kondisi ketika konten tetap tayang, tetapi jangkauannya ditekan sehingga tidak muncul di feed atau pencarian pengguna lain.

Beauty vlogger Tasya Farasya, yang punya 7,4 juta pengikut di Instagram, membagikan perbandingan data di akun Threads @tasyafarasya. Views Instagram Stories-nya biasanya menyentuh satu juta, tetapi anjlok ke kisaran 85.000 setelah ia bersuara soal karhutla.

"Stories aku biasanya VS story aku saat speak up," tulis Tasya sambil melampirkan dua tangkapan layar pembanding.

Komdigi: Moderasi Konten Wewenang Platform

Safriansyah menjelaskan, setiap platform digital punya pedoman komunitas dan mekanisme moderasi sendiri. Karena itu, dugaan penurunan jangkauan atau penghapusan konten tidak bisa langsung dikaitkan dengan intervensi pemerintah.

"Jadi, jika ada konten yang diduga mengalami penurunan jangkauan atau dihapus, penyebabnya perlu ditelusuri berdasarkan fakta dan dikonfirmasi kepada platform terkait," ungkapnya.

Pernyataan itu menempatkan proses verifikasi di ranah platform, bukan di kementerian. Pengguna yang merasa dirugikan diminta menempuh jalur konfirmasi resmi ke masing-masing layanan.

Pengalaman Influencer Tidak Seragam

Tidak semua kreator mengalami hal serupa. Jerome Polin, lewat akun Threads @jeromepolin, mengaku Instagram Story miliknya tidak terkena shadowban. Ia justru membagikan tips agar jangkauan konten tetap tinggi.

"Aku gak tau pasti caranya, tapi kalo aku liat pola dan pelajari, pakai template 'add yours' bisa ngeboost views," kata Jerome.

Perbedaan pengalaman ini menunjukkan penyebab penurunan jangkauan bisa beragam, mulai dari performa konten, interaksi audiens, hingga cara kerja algoritma distribusi masing-masing platform.

Mengapa Isu Ini Penting bagi Pengguna dan Bisnis Digital

Bagi kreator dan pelaku bisnis digital, jangkauan organis adalah aset utama. Penurunan views dari satu juta ke 85.000 berarti potensi kehilangan paparan yang besar, terutama untuk akun yang bergantung pada media sosial sebagai kanal penjualan.

Isu karhutla sendiri merupakan topik sensitif karena menyangkut bencana tahunan dan kebijakan lingkungan. Ketika pembahasan topik semacam ini dianggap dibatasi, kepercayaan publik terhadap transparansi platform ikut dipertaruhkan.

Komdigi belum mengumumkan langkah lanjutan, termasuk apakah akan meminta klarifikasi resmi ke platform. Sampai ada konfirmasi dari penyedia layanan, dugaan shadowban karhutla masih berstatus klaim pengguna yang perlu diuji dengan data jangkauan masing-masing akun.

Follow jatenglink.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: inet.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks