JAWA TENGAH — Latino Film Institute mengumumkan 10 sutradara terpilih untuk LFI Inclusion Fellowship angkatan ketujuh yang didukung Netflix. Setiap sineas menerima grant produksi senilai 50.000 dolar AS untuk membuat film pendek naratif live-action, plus pendampingan mentor dan akses industri. Film mereka akan diputar di Los Angeles Latino International Film Festival.
Program fellowship tahunan ini memasuki angkatan ketujuh dengan komposisi proyek yang lebar: horor, coming-of-age, komedi, roman, sci-fi, hingga drama. Sepuluh sineas yang lolos akan bekerja dalam lingkungan mirip studio, mengembangkan proyek dari praproduksi sampai pemutaran perdana.
Siapa Saja Sutradara Terpilih
Kohort 2027 terdiri dari Adalberto Agulo dengan proyek "Saboteur", Alexander Ibarra ("Mariposa Muere"), Berman Fenelus ("The Last Hive"), dan Camila de Ilhéus ("d’Aparecida"). Nama lain yang masuk daftar adalah Crystal Ferreiro ("PUMPED!"), Jasmin Prophete ("Zonbi"), Kevin Rios ("Hurricane Mima"), María Sofía Hernández ("El Turno (Carpool)"), Mariales Diaz ("Tío dice que te suelte en banda (Don’t Hold Me Close)"), dan Miguel Ortiz ("Brother Bushi").
Dana Produksi dan Pendampingan
Setiap fellow mendapat grant produksi 50.000 dolar AS untuk memproduksi film pendek naratif live-action. Program ini juga menyediakan mentorship serta kesempatan berjejaring dengan pelaku industri.
Diana Cadavid, director of industry programs di Latino Film Institute, menyebut dukungan Netflix berdampak langsung pada para pembuat film.
"Netflix’s continued commitment to the LFI Inclusion Fellowship makes a real difference for filmmakers with bold, original stories to tell," ujar Cadavid.
Ia menambahkan bahwa proyek tahun ini menonjol dari sisi ambisi visual dan kekuatan konsep. "This year’s cohort spans horror, coming-of-age, comedy, romance, sci-fi and drama and every project stands out for its visual ambition and conceptual strength," katanya.
Pemutaran di LALIFF dan Akses Pasar
Film yang selesai diproduksi akan ditayangkan di Los Angeles Latino International Film Festival. Para fellow juga mengikuti LALIFF Connect: Market & Creative Forum, bagian festival yang fokus pada pengembangan profesional dan networking.
Di forum itu, mereka bisa bertemu profesional dari sisi produksi, distribusi, akuisisi, hingga agensi talenta. Akses semacam ini kerap jadi pintu masuk sineas pendatang ke ekosistem industri Hollywood.
Rekam Jejak Alumni
Sejak dibentuk, fellowship ini telah melahirkan 55 alumni yang memproduksi film dan tayang di festival-festival besar. Sebagian di antaranya berhasil mendapatkan distribusi.
Angka itu menjelaskan mengapa program berbasis grant dan mentorship masih jadi jalur penting bagi sineas Latin di Amerika Serikat. Untuk pasar film global, termasuk penonton Indonesia yang makin akrab dengan cinema Latin, kohort ini layak dipantau.