Pencarian

Rev. Moose Soroti Dominasi Korporasi di Industri Musik Global

Kamis, 22 Oktober 2026 • 22:17:01 WIB
Rev. Moose Soroti Dominasi Korporasi di Industri Musik Global
Pendiri Marauder, Rev. Moose, menyampaikan kritik terhadap dominasi korporasi besar di industri musik global melalui esai tamu di Variety.

JAWA TENGAH — Pendiri Marauder, Rev. Moose, memperingatkan bahwa industri musik dunia kini dikuasai segelintir perusahaan raksasa yang mengontrol hampir seluruh sektor bisnis. Ia menyebut konsolidasi pasar membuat artis independen kehilangan ruang gerak, mulai dari tur, rekaman, hingga distribusi. Peringatan itu ia sampaikan lewat esai tamu yang diterbitkan Variety.

Rev. Moose, yang juga menjabat sebagai pendiri dan executive director emeritus National Independent Venue Association (NIVA) serta National Independent Venue Foundation (NIVF), menulis esai tamu untuk Variety. Dalam tulisan itu ia menyoroti bagaimana perusahaan-perusahaan besar perlahan menelan hampir seluruh ekosistem musik, dari label hingga panggung konser.

Ia menganalogikan industri musik saat ini seperti film horor. Vampir, menurut cerita rakyat, hanya bisa masuk ke sebuah rumah setelah dipersilakan. "This is exactly what we’ve done by permitting massive corporations to dominate what could otherwise be a competitive, independent music industry," tulisnya.

Dari Atlantic dan Virgin ke Tiga Raksasa

Moose mengingatkan bahwa beberapa dekade lalu label-label independen kuat seperti Atlantic dan Virgin masih menentukan arah sendiri. Kini perusahaan-perusahaan itu, bersama mayoritas pesaingnya, berada di bawah naungan hanya tiga perusahaan payung.

Konglomerat tersebut menyewakan kanal distribusi eksklusif mereka kepada artis dan label independen. Menurut Moose, langkah itu justru memberi tambahan tenaga bagi "monster" yang menguasai pasar. Apa pun yang tidak dimiliki secara langsung tetap dikuasai kekuatan yang sama.

Ketika Bersuara Tak Lagi Efektif

Rasa takut, kata Moose, bukan sekadar trope film. Ia menjadi kekuatan yang mengendalikan bisnis musik. Dengan konsolidasi pasar seperti sekarang, bersuara lantang dinilai hanya akan bergema di lorong kosong.

Ia mencontohkan para artis besar yang menarik musiknya dari Spotify buntut kampanye misinformasi Joe Rogan pada era pascapandemi. Kini mereka semua kembali ke platform tersebut, dan Spotify tidak mengalami dampak buruk berarti dari seruan boikot itu.

Contoh lain datang dari band Lawrence. Mereka bersaksi di hadapan Komite Kehakiman Senat Amerika Serikat soal praktik monopoli Live Nation. Setahun kemudian, band itu mengumumkan tur yang sebagian besar dipromosikan dan digelar di venue Live Nation dan Ticketmaster.

Ilusi Kemitraan yang Menguntungkan Artis

Bekerja sama dengan perusahaan multinasional raksasa dianggap sebagai kejahatan yang perlu demi bisa bertahan di industri. Moose menilai anggapan itu keliru, terutama setelah melihat gugatan Ellie Goulding terhadap manajemen lamanya.

Argumen bahwa bekerja dengan satu sektor konglomerat akan menguntungkan seluruh mesin perusahaan dinilainya sudah usang. Semakin banyak kekuasaan yang diserahkan, semakin sedikit pilihan artis untuk menentukan sendiri dengan siapa mereka bekerja dan dengan syarat apa.

Live Nation dan Venue Independen yang Merugi

Moose menyoroti ketimpangan antara klaim Live Nation dan kondisi venue independen. Perusahaan itu mengklaim pendapatan miliaran dolar, sementara hampir dua pertiga operator venue independen justru merugi hanya untuk tetap buka.

Ia mempertanyakan apakah satu perusahaan benar-benar jauh lebih baik dalam menjalankan bisnis dibanding ribuan operator lain, atau pasar memang sengaja dimiringkan ke pihaknya. Klaim Live Nation soal dampak ekonomi positif bagi komunitas lokal, menurut Moose, dibantah laporan yang menunjukkan wajib pajak mensubsidi satu perusahaan dengan mengorbankan bisnis milik lokal.

Dalam TEDx Talk berjudul "All Music Is Local", Moose menegaskan bahwa opsi independen sebenarnya ada. Banyak label, manajer, agen, penerbit, distributor, venue, promotor, dan media independen hadir setiap hari. Persoalannya, seberapa terlihat seorang artis tanpa berbisnis dengan salah satu penjaga gerbang utama itu.

Esai ini menambah daftar kritik terhadap konsentrasi kekuasaan di industri musik global, isu yang semakin sering dibahas di tengah dominasi tiga perusahaan besar dan raksasa tiket konser.

Follow jatenglink.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: variety.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks