KUDUS — Pimpinan Wilayah (PW) Fatayat NU Jawa Tengah menyoroti rendahnya tingkat literasi keuangan yang memicu maraknya kasus jeratan pinjaman online (pinjol) hingga judi online di kalangan perempuan. Hal ini menjadi perhatian serius dalam rangkaian peringatan Harlah ke-76 Fatayat NU di Kabupaten Kudus.
Wakil Ketua PW Fatayat NU Jawa Tengah, Misbahatul Hidayati, menegaskan bahwa kemudahan akses digital sering kali menjadi jebakan bagi mereka yang kurang memahami risiko finansial. Fenomena ini dinilai mengancam ketahanan ekonomi keluarga di berbagai daerah di Jawa Tengah.
Kegiatan bertajuk "Fatayat Bersholawat dan Talkshow" tersebut berlangsung di Auditorium Lantai 5 UIN Sunan Kudus. Acara ini mengusung tema besar “Berdaya, Berdampak, Mendunia” sebagai refleksi gerakan organisasi perempuan nahdliyin tersebut.
Risiko Pinjol dan Judi Online Mengintai Perempuan
Misbahatul Hidayati mengungkapkan, edukasi keuangan menjadi mendesak karena banyak perempuan tergiur oleh proses pencairan dana yang instan tanpa memikirkan bunga dan konsekuensi jangka panjang. Fatayat NU didorong untuk mengambil peran strategis dalam memberikan pendampingan kepada masyarakat bawah.
"Kita perlu meningkatkan literasi, terutama literasi keuangan. Banyak perempuan terjerat pinjol dan judi online karena kurang memahami risiko dan tergiur kemudahan," ujar Misbahatul Hidayati di hadapan ribuan kader, Jumat (1/5/2026).
Ia mengingatkan bahwa visi besar Fatayat NU sejak berdiri pada 1950 adalah memperjuangkan kesejahteraan perempuan. Semangat juang pasca-kemerdekaan tersebut harus diterjemahkan ke dalam penguatan kapasitas diri dan penguasaan ilmu pengetahuan di era modern.
Filosofi Gusjigang untuk Kemandirian Ekonomi
Dalam konteks lokal, Misbahatul mengaitkan pemberdayaan ekonomi perempuan dengan filosofi Gusjigang yang menjadi kearifan lokal masyarakat Kudus. Nilai-nilai bagus akhlaknya, gemar mengaji, dan pandai berdagang dianggap selaras dengan upaya membangun kemandirian ekonomi.
Konsep berdaya harus diwujudkan melalui peningkatan keterampilan nyata. Fatayat NU Jawa Tengah mendorong lahirnya program-program yang berdampak langsung pada penguatan ekonomi rumah tangga agar perempuan tidak mudah terjebak pada praktik ekonomi yang merugikan.
“Fatayat didorong menghadirkan program yang berdampak langsung bagi masyarakat, seperti pemberdayaan ekonomi dan penguatan ketahanan keluarga,” tandasnya.
Strategi Dakwah Digital dan Sinergi Pemerintah
Selain persoalan ekonomi, Fatayat NU juga merespons tantangan era digital dengan memanfaatkan media sebagai sarana dakwah. Targetnya adalah menyebarkan nilai-nilai Islam moderat yang menyejukkan hingga ke tingkat global.
Langkah ini memerlukan kolaborasi erat dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan. Sinergi tersebut diharapkan mampu mengoptimalkan program organisasi agar manfaatnya dirasakan secara nyata oleh masyarakat luas.
“Fatayat harus mampu menyampaikan dakwah yang menyejukkan dan menjangkau dunia,” imbuhnya.
Acara ini turut menghadirkan pembicara Nyai Umdah Baroroh dan istri Wakil Gubernur Jawa Tengah, Nyai Hj. Umdah Arofah. Suasana khidmat menyelimuti auditorium saat vocal Gambus Laila Majnun Hj. Zumrotus Sa’adah bersama hadrah Azzahra memimpin sesi bershalawat yang diikuti sekitar seribu kader dari seluruh Pimpinan Ranting di Kudus.