Pencarian

Jepang ke Piala Dunia 2026 dengan Mental Juara: Bukan Lagi Sekadar Tim Penggembira

Rabu, 03 Juni 2026 • 03:52:01 WIB
Jepang ke Piala Dunia 2026 dengan Mental Juara: Bukan Lagi Sekadar Tim Penggembira
Timnas Jepang lolos ke Piala Dunia 2026 dengan status sebagai salah satu tim unggulan.
mereka: gelar juara Piala Dunia 2026 bukan lagi sekadar mimpi. ISI:

JAWA TENGAH — Jepang lolos ke putaran final Piala Dunia 2026 dengan status yang berbeda. Tim asuhan Hajime Moriyasu kini datang ke Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko sebagai salah satu tim paling ditakuti. Bukan lagi tim underdog yang dianggap mudah dikalahkan.

Kemenangan Beruntun atas Raksasa Eropa dan Amerika Selatan

Keyakinan ini bukan tanpa dasar. Pada Piala Dunia 2022, Jepang mengalahkan Jerman dan Spanyol di fase grup. Kemenangan itu bukan sekadar kejutan satu kali. Pada Oktober 2025, mereka menumbangkan Brasil. Pada Maret 2026, mereka mengalahkan Inggris di Wembley.

“Kami tidak lagi berada pada tahap di mana berbicara terbuka tentang ‘memenangkan Piala Dunia’ mengundang cemoohan,” tulis Guardian dalam laporan eksklusifnya. Hasil-hasil impresif ini telah mengubah persepsi global terhadap sepak bola Jepang.

Formasi 3-4-2-1 dan Ancaman dari Kubo

Moriyasu membangun tim dengan fondasi kokoh. Sistem utama yang digunakan adalah 3-4-2-1, dengan pressing agresif dari lini depan. Pemain seperti Takefusa Kubo, Ritsu Doan, Keito Nakamura, dan Junya Ito menjadi ujung tombak tekanan terhadap lawan.

Kubo, yang dijuluki “Messi Jepang”, menjadi bintang utama. Pemain Real Sociedad ini menjadi kreator serangan paling berbahaya dari sisi kanan. “Dia menarik bek dengan sentuhan lembut dan rasa timing yang unik,” tulis Guardian. Di lini depan, Ayase Ueda dari Feyenoord menjadi mesin gol setelah memenangkan Sepatu Emas Eredivisie 2025-26 dengan 25 gol.

Kiper Masa Depan: Zion Suzuki dan Kekuatan Skuad

Salah satu pemain yang paling menarik perhatian adalah kiper Zion Suzuki. Kiper Parma ini memiliki potensi luar biasa, meski sempat dikritik karena inkonsistensi di Piala Asia. “Dia bisa menjadi wajah penjaga gawang Jepang selama satu dekade,” tulis Guardian. Cedera tangan yang dialaminya pada November lalu kini sudah pulih.

Kedalaman skuad Jepang menjadi kekuatan utama. Pemain seperti Takehiro Tomiyasu dan Wataru Endo harus puas duduk di bangku cadangan. Ini menunjukkan betapa kompetitifnya tim ini. Cedera Takumi Minamino dan Kaoru Mitoma memang berat, tetapi tim ini tidak akan runtuh karena absennya satu atau dua pemain bintang.

Grup Berat, Tapi Keyakinan Tinggi

Jepang tergabung di Grup F bersama Belanda, Swedia, dan Tunisia. Dua tim Eropa memiliki skuad kuat, sementara Tunisia dinilai sebagai lawan paling sulit secara gaya bermain. Namun, keyakinan di dalam skuad Jepang sangat tinggi.

Mantan pelatih Jepang, Akira Nishino, mengatakan tentang skuad saat ini: “Ini bukan tentang individu yang bertindak seperti egois. Kelompok pemain ini berjuang bersama dan dalam persatuan itu, individualitas muncul. Ada kekuatan dalam individu-individu yang ‘dijepang’ ini.”

Konservatif Tapi Stabil: Filosofi Moriyasu

Moriyasu, yang membangun tim secara bertahap sejak 2018, diakui konservatif dalam metodenya. Namun, kemampuannya menciptakan lingkungan yang stabil dan kompetitif tidak bisa disangkal. “Dengan memanfaatkan kemampuan Jepang untuk membangun secara stabil dan kualitas orang Jepang, saya ingin sepak bola mengubah keyakinan bahwa Jepang tidak bisa menjadi yang terbaik di dunia dalam olahraga kontak,” ujar Moriyasu.

Bagikan
Sumber: theguardian.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks