Pencarian

Influencer Pariwisata di Semarang Bisa Jadi Bumerang, Hotel dan Lawang Sewu Alami Kerugian Akibat Konten Menyesatkan

Rabu, 03 Juni 2026 • 18:39:31 WIB
Influencer Pariwisata di Semarang Bisa Jadi Bumerang, Hotel dan Lawang Sewu Alami Kerugian Akibat Konten Menyesatkan
Hotel Rooms Inc Semarang tetap beroperasi normal meski ada pembangunan DP Mall yang menimbulkan kesalahpahaman.

SEMARANG — Maraknya konten pariwisata yang dibuat influencer di Kota Semarang membawa dua sisi yang kontras. Di satu sisi, unggahan tentang hotel, kuliner, dan destinasi wisata mampu menjangkau jutaan orang dalam waktu singkat. Namun, di sisi lain, narasi yang dilebih-lebihkan atau tidak akurat justru memicu persepsi keliru yang merugikan pelaku usaha.

Sherly Tamoly, Event Manager Hotel Rooms Inc Semarang, mencontohkan dampak langsung yang pernah dialami pihaknya. Saat pembangunan DP Mall yang terintegrasi dengan hotel berlangsung, sebuah konten di media sosial menimbulkan kesalahpahaman di kalangan calon tamu.

“Ada konten mengenai pembangunan DP Mall yang membuat beberapa tamu membatalkan pemesanan kamar. Mereka mungkin mengira hotel tutup, akses parkir terganggu, atau operasional tidak berjalan normal. Padahal hotel tetap beroperasi seperti biasa,” kata Sherly, Rabu (03/06/2026).

Konten Berlebihan Bentuk Ekspektasi Tidak Realistis

Menurut Sherly, persoalan tidak hanya terjadi pada informasi soal proyek konstruksi. Banyak kreator konten yang menyampaikan ulasan fasilitas hotel secara terlalu dramatis, sehingga membentuk ekspektasi yang tidak realistis di benak calon tamu.

“Sekarang influencer jumlahnya sangat banyak. Ada yang memang sesuai bidang dan keahliannya, ada juga yang sekadar ikut tren membuat konten. Yang disayangkan ketika informasi yang disampaikan menjadi misleading,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa ukuran kamar, kualitas tempat tidur, hingga fasilitas pendukung lainnya sebenarnya telah sesuai standar manajemen. Namun, narasi yang berlebihan membuat netizen ikut berkomentar secara berlebihan dan menimbulkan persepsi yang tidak sesuai kondisi sebenarnya.

Lawang Sewu Kena Imbas Kabar Viral Soal Kucing Liar

Kasus serupa terjadi di destinasi wisata heritage Lawang Sewu pada pertengahan Mei 2026. Sebuah konten viral di Instagram menyebut pengelola bersikap “anti kucing”, bahkan diklaim akan membuang kucing liar dan memecat petugas yang memberi makan hewan tersebut.

Manager of Asset Operation KAI Wisata, Moedji Setiono, segera mengklarifikasi informasi itu. Ia menegaskan tidak pernah ada kebijakan untuk membuang kucing maupun memberikan sanksi kepada petugas yang merawatnya.

“Kucing-kucing di Lawang Sewu bukan sekadar hewan liar. Mereka sudah menjadi bagian dari ekosistem kawasan dan memberikan suasana hangat bagi para pengunjung. Bahkan ada wisatawan yang datang karena menyukai keberadaan kucing-kucing tersebut,” ujar Moedji saat bertemu komunitas Cat Lovers Semarang pada 17 Mei 2026.

Sebagai tindak lanjut, pengelola Lawang Sewu bersama komunitas pecinta kucing sepakat menggelar berbagai kegiatan edukasi hingga kontes kucing. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kesejahteraan hewan sekaligus mempertahankan nilai sejarah dan kenyamanan kawasan wisata.

Influencer Diminta Fokus pada Bidang Keahlian

Sherly menilai para influencer perlu lebih selektif dalam membuat konten. Menurutnya, jika seorang kreator benar-benar menguasai bidang yang dibahas, risiko penyampaian informasi yang menyesatkan bisa ditekan.

“Kalau sesuai passion dan bidangnya, influencer akan lebih memahami materi maupun product knowledge yang sedang dibahas. Dengan begitu penyampaiannya tidak misleading dan tidak menimbulkan persepsi negatif di kalangan pengikutnya,” katanya.

Ketua Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Kota Semarang, Andy Sigit Prabowo, yang juga bergerak di bidang tour and travel, mengakui keberadaan influencer sangat membantu promosi sektor pariwisata melalui YouTube, Instagram, X, hingga TikTok. Namun, ia mengingatkan pentingnya objektivitas dalam setiap konten yang dipublikasikan.

Moedji menambahkan bahwa komunikasi yang terbuka antara pengelola destinasi, komunitas, dan masyarakat menjadi kunci agar informasi yang beredar tetap berdasarkan fakta.

“Intinya komunikasi dan keterbukaan. Dengan begitu fakta yang sebenarnya dapat tersampaikan secara utuh oleh influencer sehingga masyarakat tidak membangun asumsi liar terhadap suatu informasi,” ujarnya.

Bagikan
Sumber: jatengnews.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks