Pencarian

Revitalisasi Simpang Lima Semarang: DPRD Minta Tambah Pohon Peneduh, Bukan Kurangi Vegetasi

Jumat, 03 Juli 2026 • 19:45:01 WIB
Revitalisasi Simpang Lima Semarang: DPRD Minta Tambah Pohon Peneduh, Bukan Kurangi Vegetasi
Revitalisasi Simpang Lima Semarang fokus pada penambahan pohon peneduh untuk menjaga fungsi ruang terbuka hijau.

SEMARANG — Proyek revitalisasi Simpang Lima Semarang yang saat ini tengah berjalan mendapat sorotan dari DPRD Kota Semarang. Selain mempercantik ikon ibu kota Jawa Tengah, anggota dewan meminta agar pembenahan kawasan tersebut justru menambah jumlah pohon peneduh, bukan menguranginya.

Anggota Komisi C DPRD Kota Semarang, Dini Inayati, mengingatkan bahwa pembangunan tidak boleh hanya berorientasi pada estetika semata. Menurutnya, Simpang Lima memiliki peran vital sebagai ruang terbuka hijau yang berfungsi untuk konservasi udara dan konservasi air.

“Revitalisasi memang penting, tetapi prinsip dasarnya jangan sampai terabaikan. Simpang Lima adalah ruang terbuka hijau yang memiliki fungsi konservasi udara dan konservasi air. Bukan sekadar memperindah tampilan kawasan,” ujar Dini.

Pohon Asam dan Kemampuan Serap Polutan

Salah satu poin yang disoroti adalah rencana Pemerintah Kota Semarang mengganti pohon di kawasan Simpang Lima dengan deretan pohon asam. Dini menilai pilihan tersebut memiliki nilai historis karena berkaitan erat dengan identitas Kota Semarang.

Politikus dari PKS ini menjelaskan bahwa pohon asam memiliki sistem perakaran yang kuat sehingga efektif membantu konservasi air. Namun, ia meminta pemerintah tetap mempertimbangkan kemampuan pohon tersebut dalam menyerap polutan dibandingkan jenis pohon lainnya.

“Pohon asam memang sangat baik untuk konservasi air dan memiliki nilai heritage bagi Kota Semarang. Tetapi kalau kemampuan menyerap polusinya kurang optimal, menurut saya tidak harus semuanya pohon asam. Bisa dipadukan dengan jenis pohon lain yang lebih efektif menyerap emisi kendaraan,” tuturnya.

Evaluasi Drainase Demi Bebas Banjir

Selain soal penghijauan, Dini juga menyoroti aspek pengendalian banjir yang masih menjadi pekerjaan rumah di kawasan Simpang Lima. Ia meminta pemerintah memanfaatkan proyek revitalisasi untuk memperbaiki sistem drainase secara menyeluruh.

“Jangan sampai setelah kawasan ini terlihat lebih indah, ketika hujan justru masih terjadi genangan. Saluran air, kapasitas gorong-gorong, hingga titik-titik penyumbatan harus dievaluasi secara komprehensif agar persoalan banjir bisa benar-benar terselesaikan,” ungkapnya.

Dini mengakui durasi genangan di Simpang Lima dalam beberapa tahun terakhir sudah mulai berkurang. Namun, ia menekankan bahwa tinggi genangan masih perlu ditekan agar kawasan tersebut benar-benar bebas banjir.

Momentum Perkuat Fungsi Lingkungan

Menurut Dini, sebagai kota metropolitan, Semarang menghadapi tantangan besar dalam menekan emisi gas rumah kaca. Karena itu, kebijakan penataan ruang hijau harus mampu menjawab persoalan lingkungan sekaligus menjaga identitas kota.

“Pengurangan emisi gas rumah kaca merupakan tantangan besar bagi Kota Semarang. Revitalisasi Simpang Lima seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat fungsi lingkungan, bukan hanya mempercantik kawasan. Dengan begitu, Simpang Lima benar-benar menjadi ikon kota yang nyaman, hijau, dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Bagikan
Sumber: beritajateng.tv

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks