Pencarian

Bos Tesla Elon Musk Makin Kontroversial, Dukung Ideologi Sayap Kanan dan Lawan Aturan Deepfake

Jumat, 31 Juli 2026 • 02:57:01 WIB
Bos Tesla Elon Musk Makin Kontroversial, Dukung Ideologi Sayap Kanan dan Lawan Aturan Deepfake
Elon Musk kembali menjadi sorotan setelah unggahannya di platform X dinilai mendukung ideologi sayap kanan dan menyebarkan propaganda kontroversial. Perusahaan AI milik Musk, xAI, menggugat aturan deepfake Minnesota yang dinilai bertentangan dengan perlin

JAWA TENGAH — Elon Musk seolah tak peduli dengan dampak pernyataannya terhadap merek Tesla. Dalam beberapa pekan terakhir, unggahannya di X semakin radikal, mulai dari menyebarkan propaganda Nazi hingga menyerang pejabat publik. Situasi ini unik karena biasanya dewan direksi perusahaan publik sudah lama memecat CEO yang melakukan hal serupa. Namun, Tesla bukan perusahaan biasa. Para pemegang saham telah memberikan kendali penuh kepada Musk, dan kini mereka harus menerima konsekuensinya.

Akar Masalah: Wawancara yang Memicu Eskalasi

Eskalasi terbaru ini bisa ditelusuri dari sebuah wawancara pada 23 Juli lalu. Editor-in-chief The Economist, Zanny Minton Beddoes, mewawancarai Musk. Beddoes dengan tenang membantah klaim Musk tentang Eropa, mengatakan bahwa London jauh lebih aman daripada kota mana pun di Amerika Serikat. Ia juga menunjuk data yang menunjukkan kejahatan kekerasan di Inggris justru menurun.

Dalam wawancara yang sama, Musk mengakui bahwa dirinya "terlalu terlibat dalam politik" dan "terbawa arus." Ironisnya, eksekutif Tesla sebelumnya sudah mengakui dalam panggilan pendapatan bahwa "sentimen politik" mulai membebani merek. Saat ditanya soal banyaknya orang yang membencinya, Musk hanya mengangkat bahu dan mengklaim 250 juta pengikutnya di X lebih mencintainya—padahal studi independen menunjukkan sebagian besar akun itu adalah bot atau tidak aktif.

AI Miliknya Sendiri Membantah Klaim Soal Hitler

Salah satu momen paling memalukan terjadi ketika Grok, chatbot AI buatan perusahaan Musk sendiri (xAI), mengoreksi unggahan bosnya. Musk memposting bahwa "Hitler adalah seorang sosialis, karena itu semua sosialis adalah Hitler." Unggahan itu ditonton 111 juta kali dan langsung diberi catatan komunitas. Grok pun membantah: Partai Nazi menggunakan "Sosialis Nasional" sebagai propaganda, dan Hitler justru menolak sosialisme Marxis.

Fakta bahwa AI buatannya sendiri mengoreksinya di depan publik adalah hal baru. Para sejarawan menegaskan bahwa Nazi bukan sosialis, melainkan fasis yang memenjarakan dan membunuh sosialis sejati. Musk justru mempromosikan propaganda Nazi lama untuk kepentingannya sendiri.

Dari Mitos Yunani hingga Serangan ke Pejabat Muslim

Kontroversi tak berhenti di situ. Musk berbulan-bulan menyerang sutradara Christopher Nolan karena kabar casting aktris kulit hitam Lupita Nyong'o dalam film adaptasi The Odyssey. Musk menyebut Nolan "rasis anti-kulit putih" dan "cacing" yang tunduk pada aturan woke demi Oscar. Ironisnya, The Odyssey adalah mitos tentang Cyclops dan penyihir—tidak ada yang "akurat secara historis" untuk diperdebatkan.

Musk juga terang-terangan mendukung ideologi sayap kanan. Ia membalas unggahan tentang "remigrasi"—eufemisme sayap kanan untuk deportasi massal berdasarkan etnis—dengan "Siapa pun yang menentang remigrasi adalah pengkhianat." Di kesempatan lain, ia mendukung seorang perempuan di Minnesota yang divonis karena melecehkan anak autis berkulit hitam dengan kata-kata rasis. Musk bahkan membandingkan Wali Kota New York yang beragama Muslim, Zohran Mamdani, dengan teroris 9/11.

xAI Gugat Aturan Deepfake, Demokrati Dinilai Terancam

Puncaknya, perusahaan AI Musk, xAI, baru saja menggugat negara bagian Minnesota untuk memblokir undang-undang yang menargetkan deepfake seksual non-konsensual. Langkah ini dinilai kontradiktif dengan semangat perlindungan korban kekerasan digital. Di sisi lain, Musk memuji CEO Shopify yang mendukung gagasan menghapus hak pilih pensiunan dan memberikan suara lebih banyak kepada wajib pajak kaya—sebuah ide yang oleh banyak pihak disebut anti-demokrasi.

Bagi pengamat industri, perilaku Musk kini bukan sekadar masalah citra pribadi. Ini menjadi risiko nyata bagi merek Tesla di mata konsumen global, termasuk di pasar-pasar utama seperti Eropa dan Asia. Pertanyaannya, sampai kapan pemegang saham Tesla akan bertahan dengan seorang pemimpin yang lebih sibuk berpolitik daripada menjalankan perusahaan?

Bagikan
Sumber: electrek.co

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks