Pencarian

Produk Limbah UMKM Jateng Tembus Pasar Australia hingga Amerika, Omzet Capai Rp 26,7 Juta di Bali

Jumat, 21 Agustus 2026 • 17:42:03 WIB
Produk Limbah UMKM Jateng Tembus Pasar Australia hingga Amerika, Omzet Capai Rp 26,7 Juta di Bali
Produk kerajinan limbah UMKM Tanganku asal Kabupaten Semarang dipamerkan dalam rangka Hari Jadi ke-81 Jawa Tengah di Kompleks Kantor Gubernur, Kamis (20/8/2026).

Pameran UMKM dalam rangka Hari Jadi ke-81 Jawa Tengah di Kompleks Kantor Gubernur, Kamis (20/8/2026), menampilkan produk kerajinan berbahan limbah yang telah menembus pasar ekspor. Produk buatan UMKM Tanganku asal Kabupaten Semarang ini bahkan mampu meraup omzet di atas 1.500 dolar AS atau sekitar Rp 26,7 juta saat periode ramai wisatawan di Bali.

SEMARANG — Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jateng, Nawal Arafah Yasin, dan Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen, menyempatkan diri meninjau stan UMKM dalam pameran tersebut. Perhatian mereka tertuju pada produk daur ulang yang dipamerkan oleh UMKM Tanganku, mulai dari batik ecoprint, tas, aksesori, hingga alas kaki yang bahan bakunya berasal dari plastik dan limbah tak terpakai.

Omzet Rp 26,7 Juta dari Suvenir Ramah Lingkungan

Pemilik sekaligus desainer Tanganku, Kokos Trisada, mengungkapkan bahwa produknya sudah merambah pasar internasional. "Tadi Pak Wagub dan Ibu membeli tas, souvenir, itu semua sudah ekspor. Kalau souvenir ini Australia, Jepang, Taiwan, China, Samoa, Amerika, sama Singapura," kata Kokos di sela pameran.

Konsep penjualan yang diusung adalah "ekspor tenteng", yakni produk yang mudah dibawa wisatawan saat kembali ke negara asal. Strategi ini dinilai relevan dengan kondisi bagasi pesawat yang semakin terbatas. Pada periode Juli hingga Oktober yang merupakan musim ramai kunjungan wisatawan di Bali, omzet produk suvenir Tanganku disebut bisa menembus angka 1.500 dolar AS.

Kekuatan Budaya Jadi Modal Utama Ekspor

Nawal Arafah Yasin menilai produk UMKM Jawa Tengah memiliki daya tarik kuat di pasar global karena ditopang kekayaan budaya dan keragaman wastra dari berbagai daerah. "Yang paling menarik ini adalah potensi di Jawa Tengah, bagaimana produk-produk ini basisnya adalah kekuatan kebudayaannya. Sehingga itu yang bisa kita jual. Jadi, wastra-wastranya sangat beragam," ujarnya seusai berkeliling pameran.

Ia mencontohkan keberagaman produk wastra Jateng mulai dari ecoprint, jumputan, hingga batik dengan karakteristik berbeda di tiap daerah. Misalnya, batik asal Pekalongan memiliki ciri khas dan filosofi yang berbeda dengan batik asal Batang. "Kemudian di Jepara kita juga lihat tadi ada tenunnya. Jadi, dari 35 stan kabupaten/kota ini, kita melihat banyak sekali wastra yang memiliki ciri khas yang luar biasa," tambah Nawal.

Klinik Ekspor Resmi Diluncurkan untuk UMKM

Pada kesempatan yang sama, Nawal Arafah meluncurkan Klinik Ekspor yang akan beroperasi di Kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jateng. Fasilitas ini dirancang sebagai wadah konsultasi bagi pelaku usaha yang ingin mendapatkan informasi serta pendampingan untuk mengakses pasar luar negeri.

Langkah ini merupakan tindak lanjut arahan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin untuk memperkuat produk UMKM Jateng agar tidak hanya bertahan di pasar domestik, tetapi juga memiliki peluang menembus pasar internasional.

"Jadi, klinik ini yang pertama nantinya bisa memberikan informasi dan edukasi tentang bagaimana caranya UMKM-UMKM ini bisa ekspor. Kemudian pendampingan mengenai legalitas, administrasi, juga untuk peningkatan kapasitas, standarisasi produk, bisa kemudian konsultasi di klinik ekspor ini," jelas Nawal.

Follow jatenglink.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: ppid.jatengprov.go.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks