BOYOLALI — Kebutuhan air bersih untuk warga terdampak kekeringan di Boyolali diperkirakan mencapai 11 juta liter hingga November 2026. Angka ini dihitung berdasarkan pengalaman kemarau panjang sebelumnya dan proyeksi dampak fenomena El Nino yang disebut berpotensi berlangsung hingga awal tahun depan.
Syawaludin mengatakan, dari total tersebut, sekitar 7 juta liter air dibutuhkan untuk proses dropping atau distribusi ke wilayah terdampak. Sisanya merupakan cadangan untuk mengantisipasi kebutuhan yang tidak terduga di lapangan.
Perbandingan dengan Kemarau 2023: 13 Kecamatan Terdampak
Pemkab Boyolali tidak berangkat dari nol dalam menyusun rencana ini. Pada 2023, wilayah yang mengalami kemarau panjang tercatat lebih luas, mencapai 13 kecamatan.
Pengalaman tersebut menjadi dasar penyusunan solusi jangka pendek yang kini dijalankan, yakni pendistribusian air bersih secara kolaboratif bersama berbagai sektor. Selain itu, pemerintah daerah juga terus melakukan pencarian titik sumber air baru dan pembangunan bak penampungan sebagai solusi jangka panjang.
Warga Mulai Khawatir Sumber Air Semakin Menyusut
Di sejumlah kecamatan yang mulai merasakan krisis, kekhawatiran warga muncul seiring berlanjutnya musim kemarau. Salah seorang warga, Sholeh, mengungkapkan bahwa sumber-sumber air yang masih tersisa akan semakin menyusut bahkan berpotensi habis.
"Sumber-sumber air yang masih tersisa akan semakin menyusut bahkan habis," ujar Sholeh, Senin (24/8/2026).
Kondisi ini dinilai berpotensi memperparah krisis air bersih di beberapa wilayah Boyolali jika kemarau berlangsung lebih lama dari perkiraan. Bantuan air bersih pun menjadi harapan utama warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Distribusi Air Melibatkan Berbagai Sektor
Pendistribusian air bersih dilakukan secara bertahap dengan melibatkan berbagai pihak. Pemkab Boyolali berupaya memastikan pasokan air dapat menjangkau seluruh kecamatan yang masuk daftar rawan kekeringan.
Langkah ini diambil sebagai bentuk antisipasi agar warga tetap mendapatkan akses air bersih untuk kebutuhan domestik selama masa sulit. Pemkab juga berkomitmen untuk terus memantau perkembangan kondisi di lapangan dan menyesuaikan kebutuhan dropping air secara berkala.