JAWA TENGAH — Robert Pattinson menilai versi Batman yang ia perankan dalam waralaba garapan Matt Reeves sulit disatukan dengan pahlawan super lain, termasuk Superman versi David Corenswet di DC Universe (DCU) James Gunn. Alasannya, pendekatan cerita The Batman sangat spesifik dan berfokus pada kisah crime noir psikologis yang realistis serta kelam. Pattinson mengungkapkan hal itu dalam wawancaranya dengan LADbible, seperti diberitakan The Hollywood Reporter pada Minggu (27/9).
Aktor yang juga membintangi film Primetime itu menegaskan bahwa nada cerita yang intens membuat sosok Bruce Wayne yang ia lakoni tidak akan cocok jika dipaksakan berinteraksi di luar ekosistem Gotham versi Reeves. Menurutnya, pendekatan yang diambil waralaba The Batman berdiri di jalur yang berbeda dari semesta pahlawan super arus utama.
Alasan Batman Versi Matt Reeves Sulit Bergabung dengan DCU
Pattinson menjelaskan bahwa gaya penyutradaraan dan atmosfer cerita The Batman begitu khas sehingga sulit ditransplantasikan ke konteks semesta yang lebih luas. Ia menyebut karakter Bruce Wayne yang diperankannya sebagai sosok yang terikat kuat pada dunia gelap Gotham.
"Saya pikir akan agak sulit membawa versi Bruce ini ke luar dari dunianya," ujar Pattinson kepada LADbible.
Ia menambahkan bahwa durasi syuting yang panjang serta gaya cerita yang spesifik membuat suasana film meresap ke dalam diri pemainnya. Bagi Pattinson, pengalaman itu bukan sekadar soal akting, melainkan juga soal bagaimana atmosfer gelap memengaruhi kondisi psikologis.
Dampak Syuting The Batman pada Kondisi Pattinson
Pattinson mengaku sempat kesulitan keluar dari karakter Bruce Wayne setelah proses produksi selesai. Suasana gelap yang menyelimuti hampir seluruh proses syuting, baik dari sisi pencahayaan maupun latar emosional, meninggalkan bekas yang cukup dalam.
"Saya ingat itu terjadi pada saya terakhir kali mengerjakannya, butuh waktu untuk keluar dari karakter itu," beber Robert Pattinson.
"Anda berada di dalam kegelapan sepanjang waktu, baik dari suasana hati maupun pencahayaan. Saya hampir tidak bisa melihat apa pun selama berbulan-bulan, dan itu benar-benar memengaruhi Anda," lanjutnya.
Pengalaman itu memberi gambaran betapa pekatnya pendekatan yang diambil Matt Reeves dalam membangun dunia The Batman, yang sejak awal memang dirancang sebagai kisah kriminal bergaya noir.
The Batman Part II dan Arah Cerita Sekuelnya
Film The Batman yang rilis pada 2022 menampilkan Bruce Wayne di tahun-tahun awalnya sebagai detektif yang membongkar skandal korupsi terselubung di Gotham usai kemunculan pembunuh berantai. Kini Pattinson tengah menjalani proses syuting sekuelnya, The Batman Part II, yang dijadwalkan tayang 18 Februari 2028 di bioskop.
Berbicara kepada Collider, aktor film The Odyssey ini membocorkan bahwa sekuel mendatang mengambil alur yang cukup mengejutkan dibanding film pertamanya. Ia menyebut pendekatan sekuel tetap berbeda, namun masih mempertahankan rasa khas dari film sebelumnya.
"Film pertama merupakan pendekatan yang berbeda untuk sebuah film Batman, dan yang satu ini juga sama. Ini benar-benar berbelok tajam dari yang pertama, tetapi entah bagaimana tetap mempertahankan elemen rasa dari film sebelumnya," tutur Pattinson.
Ia mengaku sangat bersemangat melihat hasil akhir dari proyek sekuel yang ia sebut sangat ambisius tersebut.
Jadwal Proyek DCU James Gunn Selanjutnya
Di sisi lain, DCU yang digarap James Gunn terus melanjutkan lini ceritanya. Proyek terbaru yang akan tayang adalah horor thriller Clayface pada 23 Oktober, diikuti Man of Tomorrow yang menjadi sekuel Superman pada 2027.
Pernyataan Pattinson menegaskan bahwa waralaba The Batman dan DCU berjalan di jalur masing-masing, setidaknya untuk saat ini. Bagi penggemar, dua semesta itu sama-sama menyajikan pendekatan berbeda terhadap karakter ikonik DC.