Pencarian

YPLAG dan MDS Gagas Sekolah Perdamaian di Solo, Targetkan Kota Ini Jadi Laboratorium Kerukunan Nasional

Sabtu, 30 Mei 2026 • 21:58:01 WIB
YPLAG dan MDS Gagas Sekolah Perdamaian di Solo, Targetkan Kota Ini Jadi Laboratorium Kerukunan Nasional
YPLAG dan MDS menginisiasi Sekolah Perdamaian Indonesia di Solo sebagai upaya menguatkan kerukunan.

SOLO — Yayasan Perdamaian Lintas Agama dan Golongan (YPLAG) bersama Muria Damai Sentosa (MDS) menggagas pendirian Sekolah Perdamaian Indonesia di Kota Solo. Gagasan ini mengemuka dalam roundtable dialog yang digelar di Sekretariat Bersama (Sekber), Jalan Kepatihan, Surakarta, Sabtu (30/5/2026), sebagai respons atas meningkatnya polarisasi sosial dan menurunnya kepercayaan publik terhadap institusi hukum dan keamanan.

Solo Peace Institute: Dari Dialog ke Gerakan Berkelanjutan

Koordinator Program YPLAG, Paulus Hartono, mengatakan forum dialog bertajuk “Rekonstruksi Nilai-Nilai Sosial Budaya, Sejarah dan Agama dalam Transformasi Perdamaian di Indonesia” ini merupakan langkah awal membangun gerakan damai yang berkelanjutan.

“Hari ini kita membuat rantai dialog yang digagas oleh YPLAG bersama MDS dan Penghayat Kepercayaan Sapta Dharma. Kita mencoba menggali kembali nilai-nilai budaya, agama, sosial, dan sejarah untuk membangun transformasi Indonesia yang damai,” ujarnya.

Menurut Paulus, cita-cita besar yang ingin diwujudkan adalah menjadikan Solo sebagai pusat pembelajaran perdamaian atau semacam Solo Peace Institute. “Kami merindukan di Kota Solo ini hadir Solo Peace Institute atau Sekolah Perdamaian Indonesia. Solo memiliki sejarah panjang dalam membangun perdamaian. Kini kota ini tidak lagi serentan dulu terhadap konflik sosial, agama maupun politik,” ungkapnya.

Modal Sosial Solo: 40 Alumni Sekolah Perdamaian Tersebar

Gagasan ini bukan tanpa dasar. Paulus menambahkan, sejak YPLAG berdiri pada 2003, berbagai program pendidikan dan pelatihan perdamaian telah berjalan. Lembaga ini telah melahirkan sekitar 40 alumni sekolah perdamaian yang kini tersebar di berbagai daerah dan aktif membangun harmoni di komunitas masing-masing.

“Kami ingin memberdayakan dan mengaktifkan berbagai unsur yang kita miliki. Itu merupakan kekayaan di negara yang plural ini agar Indonesia semakin baik dan kesatuan bangsa tetap terjaga,” katanya.

Ia menilai Solo memiliki potensi besar menjadi laboratorium perdamaian nasional yang dapat menjadi rujukan bagi daerah lain dalam mengelola keberagaman. “Harapan kami ke depan, Solo bisa menjadi laboratorium perdamaian untuk lintas agama dan golongan. Solo memiliki sumbangsih besar dalam membangun perdamaian di Indonesia dan menjaga kesatuan Nusantara,” tegas Paulus.

Tokoh: Toleransi Harus Lewat Aksi Nyata, Bukan Slogan

Tokoh masyarakat sekaligus pimpinan PMI Surakarta, Soemartono Hadinoto, menyambut baik inisiatif ini. Menurutnya, perdamaian dan toleransi tidak cukup diwujudkan melalui slogan, tetapi harus dibangun melalui aksi nyata dan kolaborasi berbagai pihak.

“Ini langkah yang bagus. Toleransi merupakan bagian penting dari perdamaian. Perdamaian adalah sesuatu yang diinginkan semua orang, tetapi tidak bisa hanya dengan slogan atau doa, melainkan harus diwujudkan melalui langkah nyata,” jelas Sumartono yang pernah menerima penghargaan Global Business and Interfaith Peace Award 2018 dari PBB.

Soemartono berharap YPLAG dapat menjadi wadah yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat di Solo sekaligus mendukung para pengambil kebijakan dalam menjaga kerukunan. “Kalau terjadi konflik di Solo, berbagai elemen yang tergabung bisa bersama-sama memberikan masukan, solusi, dan berkomunikasi dengan pihak terkait, terutama pemerintah kota. Ini penting agar Solo tetap menjadi kota yang damai dan toleran,” katanya.

Berdasarkan Pengalaman 70 Tahun Warga Solo

Berdasarkan pengalaman hidupnya selama lebih dari 70 tahun sebagai warga Solo, Soemartono menilai kota tersebut memiliki modal sosial yang kuat untuk kembali menjadi salah satu kota paling toleran di Indonesia. “Dulu Solo sangat aman dan tenteram. Seiring perkembangan zaman banyak perubahan yang terjadi. Karena itu kita harus mengajak lebih banyak orang untuk bersama-sama memperjuangkan kebersamaan dan toleransi,” tutur Ketua Umum PMS dan PMI Kota Solo ini.

Dialog tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, antara lain budayawan Solo KGPH Dipokusumo, perwakilan Kementerian Agama Kota Surakarta H. Ahmad Ulin Nur Hafsun, pemerhati sosial Drs. Alvonsus Aryo Salugu MM, tokoh etnis Tionghoa Soemartono Hadinoto, Ketua Dewan Pembina YPLAG Ir. H. Almunawar, serta anggota pembina YPLAG Pdt. Bambang Mulyatno. Melalui forum ini, para peserta berharap lahir berbagai gagasan strategis untuk memperkuat budaya damai di tingkat akar rumput.

Bagikan
Sumber: mettanews.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks