Pencarian

231.724 Kursi SMA-SMK Negeri di Jateng Belum Cukup, Pemprov Gandeng 139 Sekolah Swasta Gratis untuk Anak Kurang Mampu

Minggu, 16 Agustus 2026 • 19:15:01 WIB
231.724 Kursi SMA-SMK Negeri di Jateng Belum Cukup, Pemprov Gandeng 139 Sekolah Swasta Gratis untuk Anak Kurang Mampu
Rafa Fidianto, siswa penerima Program Sekolah Kemitraan, mengikuti kegiatan belajar mengajar di SMA Laboratorium UPGRIS, Semarang, Senin (13/7/2026).

SEMARANG — Kegagalan masuk sekolah negeri tidak lagi menjadi akhir dari mimpi melanjutkan pendidikan bagi anak-anak kurang mampu di Jawa Tengah. Melalui Program Sekolah Kemitraan, Pemprov Jateng membuka 5.004 kursi gratis di 139 sekolah swasta yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota, dengan bantuan biaya Rp 2 juta per siswa setiap tahunnya.

Rafa Fidianto, anak seorang pengemudi ojek online di Kota Semarang, menjadi salah satu penerima manfaat program tersebut. Ia kini duduk di bangku SMA Laboratorium UPGRIS setelah sebelumnya gagal dalam seleksi sekolah negeri karena nilainya belum mencukupi.

"Sebelumnya saya sempat ikut mendaftar ke sekolah negeri, tetapi nilai saya tidak cukup. Saya senang bisa sekolah di sini karena bisa mendapat banyak teman," kata Rafa, Senin (13/7/2026).

Diperuntukkan bagi Keluarga Desil 1 hingga 4

Program ini menyasar siswa dari keluarga kurang mampu yang masuk kategori Desil 1 hingga Desil 4 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Dari total kursi yang disediakan, 1.036 siswa diterima di 56 SMA swasta mitra dan 2.640 siswa lainnya di 83 SMK swasta.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Tengah Sadimin menegaskan bahwa pemerataan akses pendidikan harus berjalan beriringan dengan pengembangan bakat generasi muda.

"Kami ingin memastikan akses pendidikan merata, sekaligus memberi ruang bagi bakat dan prestasi generasi muda Jawa Tengah untuk tumbuh," ujarnya.

Bantuan Pembiayaan dan Larangan Titip-Menitip

Selain sekolah gratis, Pemprov Jateng mengucurkan Beasiswa Siswa Miskin (BSM) kepada 10.000 siswa dengan nominal Rp 1 juta per siswa pada 2026. Bantuan operasional sekolah daerah (BOSDA) juga menjangkau 50.620 siswa dengan nilai serupa, sementara 1.100 anak tidak sekolah menerima bantuan Rp 2 juta per siswa pada tahun sebelumnya.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan komitmennya memberantas praktik titip-menitip dalam penerimaan siswa baru di sekolah negeri. Ia mengancam akan mencopot kepala sekolah yang terbukti melanggar.

"Tidak ada satu pun SMA di tempat kita yang titip-titip. No titip, no jastip. Kalau ada, saya copot kepseknya," tegas Luthfi.

SMANKO Jatidiri: Sekolah Gratis untuk Atlet Muda

Jalur pendidikan juga dibuka bagi siswa dengan potensi olahraga melalui SMA Negeri Keberbakatan Olahraga (SMANKO) di Kawasan Olahraga Jatidiri, Semarang. Pada tahun ajaran 2025/2026, sekolah ini menampung 252 siswa yang dibina dalam 21 cabang olahraga.

Seluruh siswa SMANKO mendapatkan fasilitas asrama, konsumsi, pendidikan dan latihan gratis, perlengkapan atlet, uang saku, hingga kesempatan mengikuti kejuaraan. Hasilnya, pada Popnas 2025 siswa SMANKO menyumbangkan enam medali emas, satu perak, dan dua perunggu untuk Jawa Tengah.

Ezar, atlet taekwondo asal Cilacap, mengapresiasi dukungan yang diberikan pemerintah daerah.

"Terima kasih Bapak Gubernur Jawa Tengah, dengan kesempatan yang telah diberikan kepada saya, untuk meraih prestasi," ujarnya.

Beasiswa ke Korea Selatan untuk 62 Pelajar

Pemprov Jateng juga memperluas jangkauan pendidikan hingga ke luar negeri melalui Program Beasiswa Sister Province. Program ini memberikan kesempatan kepada siswa dari keluarga kurang mampu untuk melanjutkan pendidikan di Korea Selatan dengan orientasi kompetensi kerja.

Dari 1.825 pendaftar, seleksi ketat mengerucutkan peserta menjadi 100 orang, kemudian kembali disaring menjadi 62 orang. Per 22 Juli 2026, sebanyak 59 peserta telah memasuki proses pembuatan visa sebelum berangkat ke Korea Selatan.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sumarno menyebut program ini bukan sekadar mengirim pelajar ke luar negeri, melainkan bagian dari strategi peningkatan kualitas sumber daya manusia sekaligus pengentasan kemiskinan.

"Ini salah satu dari program kita untuk masalah penuntasan kemiskinan," kata Sumarno.

Pendidikan disebut Gubernur Luthfi sebagai investasi masa depan yang mampu memutus mata rantai kemiskinan. Dari Rafa yang bersekolah melalui Program Sekolah Kemitraan, atlet muda di SMANKO, hingga pelajar yang bersiap terbang ke Korea Selatan, seluruhnya menjadi bukti bahwa akses pendidikan kini tidak lagi terbatas pada mereka yang mampu membayar.

Follow jatenglink.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: jatengnews.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks