JAWA TENGAH — Bus merah putih berlogo meriam melambat di persimpangan Blackstock Road menuju Newington Green. Asap merah membumbung, ribuan ponsel terangkat, dan sorak-sorai pecah. Momen itulah yang dinanti oleh para penggemar Arsenal—sebagian dari mereka belum pernah merasakan gelar liga sejak era The Invincibles tahun 2004.
Lahir di Era Banter, Kini Bisa Tersenyum
Generasi di bawah 30 tahun mendominasi kerumunan. Mereka tumbuh besar di masa klub kerap menjadi bahan ejekan, harga tiket melambung, dan era media sosial yang kejam. “Semua orang mencari secuil kebahagiaan,” ujar seorang pemuda asal London selatan yang ikut berjalan kaki dari Finsbury Park.
Banyak dari mereka mengenakan kostum retro Arsenal musim 2003/2004—tim yang belum pernah mereka saksikan langsung. Namun, euforia yang terpancar sama nyatanya dengan kenangan para pendukung senior.
Wajah London yang Beragam di Satu Pesta
Kepolisian Metropolitan memperkirakan parade ini sebagai yang terbesar dalam sejarah olahraga Inggris. Kereta dari utara dan selatan menuju Kings Cross penuh sesak. Sepeda-sepeda Lime berjejer di rute sepanjang delapan kilometer dari Highbury hingga Holloway.
Yang mencolok adalah komposisi penonton. Warga kulit hitam London tampil dominan—pemandangan yang jarang terjadi di dalam stadion Premier League. Jilbab berkibar di Holloway Road, nyanyian Declan Rice versi Turki bergema di Seven Sisters Road, dan pendingin berpendingin milik fans Kolombia memenuhi Clissold Park. “Klub ini telah merangkul semua orang,” kata Solene, warga asli London utara yang terbang pulang dari Republik Demokratik Kongo khusus untuk parade.
Dari 1971 ke 2024: Wajah Perayaan yang Berubah
Kenny dan Andrew, dua pria yang menyaksikan parade gelar ganda Bertie Mee pada 1971, mengamati perubahan drastis. “Dulu kami bisa berlari di belakang bus, meneriakkan sesuatu, dan pemain membalas. Hari ini bus melaju cepat, pemain hampir tidak melihat kami,” kata Andrew yang kini berusia 60 tahun.
Mereka juga heran dengan banyaknya jersey replika seharga 80 poundsterling yang dikenakan para pendatang baru. “Perayaannya jauh lebih besar dari dulu,” tambah Kenny. Meski begitu, keduanya sepakat bahwa esensi kebersamaan tetap sama—hanya kemasannya yang berganti.
Puncak di Emirates, Tapi Pesta di Jalan Raya
Rute parade berakhir di Stadion Emirates yang menggelar seremoni tertutup untuk publik. Namun, hal itu tak mengurangi gegap gempita. Holloway Road berubah menjadi karnaval dadakan dengan puluhan pengeras suara. Warga duduk di teras lantai pertama, ada yang membawa handuk bergambar Gunnersaurus, bahkan seorang pria paruh baya berjalan dengan sepatu bola lengkap.
Bagi Solene dan ribuan lainnya, trofi yang melintas bukan sekadar logam. “Arsenal tidak hanya mewakili London utara, tapi seluruh London dan bahkan aspirasi,” katanya menirukan pernyataan Wali Kota New York, Zohran Mamdani. Di hari itu, sepak bola benar-benar milik semua orang.