SLAWI — Pemerintah Kabupaten Tegal berhasil membalikkan tren birokrasi yang selama ini dikeluhkan investor. Melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), tiga tim kerja teknis internal dibentuk untuk memotong rantai perizinan yang rumit. Hasilnya, realisasi modal pada 2025 menembus Rp4,754 triliun, melampaui target daerah yang dipatok Rp3,5 triliun.
Tiga Pilar Baru yang Mempercepat Arus Modal
Danang WP menjelaskan bahwa ketiga tim tersebut meliputi Tim Kerja Penanaman Modal, Tim Kerja Penyelenggaraan Pelayanan Perizinan, serta Tim Kerja Pengawasan dan Pengendalian Kepatuhan Berusaha. Integrasi kerja dari hulu ke hilir ini mengubah layanan menjadi bersifat konsultatif, bukan sekadar administratif.
"Kami tidak ingin mencari-cari kesalahan teknis para pelaku usaha. Petugas lapangan justru memberikan ruang asistensi dan bimbingan teknis sebelum menerapkan sanksi," ujar Danang di ruang kerjanya, Jumat (11/7/2025).
Dari Alas Kaki ke Agroindustri: Diversifikasi Sektor
Selama ini, industri alas kaki menjadi penyerap tenaga kerja massal di wilayah Slawi dan sekitarnya. Namun, kurva investasi lima tahun terakhir menunjukkan pergeseran. Realisasi penanaman modal merangkak dari Rp1,65 triliun (2021) menjadi Rp1,875 triliun (2022), lalu Rp2,039 triliun (2023), dan Rp3,659 triliun (2024), sebelum akhirnya melesat pada 2025.
Pemkab Tegal kini gencar mendorong diversifikasi berbasis potensi lokal. Hilirisasi pertanian, pengembangan agroindustri terpadu, optimalisasi pabrik gula tebu, hingga perluasan industri manufaktur gula menjadi sektor baru yang dibuka lebar. Sektor peternakan, perakitan kendaraan bermotor, logistik, dan industri karet-plastik juga turut menyumbang pertumbuhan.
Dampak ke Warga: Kos-Kosan hingga Warung Makan Tumbuh
Setiap pabrik baru yang berdiri di Kabupaten Tegal memicu efek domino ekonomi di tingkat tapak. Ekosistem bisnis turunan seperti rumah kos, warung makan swadaya, penyedia jasa transportasi lokal, hingga perdagangan mikro mulai menjamur di sekitar kawasan industri.
Pemerintah daerah berkomitmen mendampingi korporasi jika ditemukan kendala operasional atau hambatan sosial-lingkungan. Pendekatan humanis ini diyakini mampu menjaga iklim usaha tetap kondusif tanpa mengorbankan kepentingan warga sekitar.
Target ke Depan: Ramah Investasi Sepanjang Tahun
Danang mengajak investor nasional untuk tidak ragu menanamkan modal di Slawi. Pihak pemda menjamin perlindungan sosial dan kemudahan administrasi penuh sebagai perwujudan bahwa Kabupaten Tegal adalah daerah yang ramah investasi. Pelaporan Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) berkala—per triwulan untuk skala menengah-besar dan per semester untuk usaha kecil—akan tetap mengedepankan aspek pembinaan.