JAWA TENGAH — Samsung kembali menunjukkan konsistensinya dalam mengejar ketipisan bodi untuk lini foldable terbaru, Galaxy Z Fold 8. Namun, konsistensi itu justru menjadi masalah ketika perusahaan memilih untuk tidak menyematkan magnet internal yang diperlukan untuk pengisian nirkabel Qi2 penuh. Langkah ini membuat ponsel lipat termahal Samsung saat ini hanya mendukung standar "Qi2-ready", bukan Qi2 sesungguhnya.
Apa Beda Qi2 dengan Qi2-Ready?
Standar Qi2 yang disetujui Wireless Power Consortium pada 2023 sejatinya membawa fitur magnetic alignment—sistem yang memastikan koil pengisi daya dan ponsel tetap sejajar secara sempurna. Teknologi ini mirip dengan MagSafe milik Apple yang sudah hadir sejak iPhone 12 pada 2020.
Ponsel yang mendukung Qi2 penuh memiliki magnet internal di dalam bodi. Sementara itu, perangkat "Qi2-ready" hanya kompatibel secara protokol pengisian, tapi tidak memiliki magnet bawaan. Pengguna harus membeli case khusus bermagnet untuk mendapatkan fungsi tersebut.
Masalah Nyata: Pengisian Gagal di Tengah Malam
Bagi pengguna yang memiliki hewan peliharaan, atau sekadar sering mengganti posisi tidur, ketiadaan magnet internal menjadi gangguan harian. Ponsel yang diletakkan di charger nirkabel bisa bergeser beberapa milimeter dan gagal mengisi daya semalaman.
"Saya tidak bisa menghitung berapa kali bangun tidur dan mendapati ponsel tidak terisi penuh karena kucing saya menyenggolnya," tulis seorang pengulas teknologi yang beralih dari iPhone 15 Pro Max ke Galaxy S25 Ultra. Kondisi ini membuat pengalaman pengisian daya nirkabel menjadi tidak dapat diandalkan untuk pemakaian harian.
Mengapa Samsung Ogah Tambah Magnet?
Samsung tampaknya masih memprioritaskan dimensi super tipis untuk lini foldable-nya. Galaxy Z Fold 8 Ultra disebut lebih tipis dari Pixel 10 Pro Fold yang sudah memiliki magnet internal. Padahal, selisih ketebalan antar keduanya hanya dalam hitungan milimeter.
Keputusan ini terasa kontras dengan langkah Samsung yang justru mulai mengadopsi baterai silikon-karbon pada lini flagship-nya. Teknologi baterai anyar itu memungkinkan kapasitas lebih besar tanpa menambah dimensi. Namun, jika harus memilih antara baterai lebih besar dan magnet Qi2, banyak pengguna yang lebih membutuhkan kemudahan pengisian daya setiap hari.
Dampak ke Pengguna di Indonesia
Di pasar Indonesia, Galaxy Z Fold 8 Ultra dibanderol mulai Rp 30 jutaan. Dengan harga segitu, pengguna lokal yang terbiasa dengan aksesori MagSafe dari iPhone harus merogoh kocek tambahan untuk membeli case magnetik khusus. Case ini juga mengunci pengguna pada satu aksesori tertentu dan tidak bisa digunakan saat ponsel dalam keadaan tanpa case.
Google Pixel 10 Pro Fold yang sudah mendukung Qi2 penuh tidak dijual resmi di Indonesia. Situasi ini membuat konsumen Tanah Air yang menginginkan foldable dengan magnet internal harus mencari alternatif dari China seperti OPPO Find N5 atau Honor Magic V4 yang sudah mengadopsi fitur serupa.
Kesimpulan: Fitur Kecil, Dampak Besar
Magnetic alignment charging bukan sekadar gimmick. Fitur ini menyelesaikan masalah nyata: pengisian daya yang gagal karena posisi bergeser. Untuk ponsel sekelas foldable premium, absennya komponen ini terasa seperti pengorbanan yang tidak perlu demi mengejar rekor ketipisan.
Samsung memang unggul dalam inovasi baterai dan desain tipis. Namun, untuk urusan kemudahan pengisian daya nirkabel, perusahaan asal Korea Selatan itu masih tertinggal dari kompetitor yang lebih dulu mengadopsi Qi2 penuh.