SOLO — Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI dengan memberikan penghargaan kepada dosen dan karyawan yang telah mengabdi selama 10, 20, hingga 30 tahun. Penghargaan itu diserahkan langsung oleh Rektor Unisri, Prof. Dr. Sutoyo, di sela upacara peringatan di kampus setempat, Senin (17/8/2026).
Pemberian penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi institusi atas dedikasi para sivitas akademika yang berkontribusi dalam perkembangan Unisri. Selain itu, sejumlah mahasiswa berprestasi di bidang akademik dan nonakademik juga menerima apresiasi serupa.
Tiga Kategori Penghargaan untuk Pengabdian Puluhan Tahun
Prof. Sutoyo menjelaskan, penghargaan yang diberikan terbagi dalam tiga kategori masa bakti. Satya Bhakti Institusi Pratama diberikan kepada karyawan dengan masa pengabdian 10 tahun, Satya Bhakti Institusi Madya untuk 20 tahun, dan Satya Bhakti Institusi Utama bagi mereka yang telah mengabdi selama 30 tahun.
"Penghargaan ini sebagai apresiasi agar para dosen dan karyawan lebih giat lagi dan para mahasiswa berprestasi lebih tinggi lagi," kata Sutoyo dalam sambutannya.
Pada kesempatan yang sama, rektor juga menyerahkan Surat Keputusan (SK) pengangkatan kepada sejumlah pegawai baru di lingkungan Unisri.
Long March 100 Meter: Simbol Nasionalisme Generasi Muda
Usai upacara, semangat kemerdekaan di kampus yang terletak di Jalan Sumpah Pemuda ini berlanjut melalui aksi long march. Ratusan mahasiswa dari berbagai fakultas dan program studi membentangkan bendera Merah Putih raksasa sepanjang 100 meter.
Rombongan berjalan kaki dari kampus menuju Jembatan Merah atau yang kini dikenal sebagai Jembatan Joglo, salah satu ikon baru Kota Solo. Setelah membentangkan bendera di lokasi tersebut, para mahasiswa kembali berjalan menuju kampus.
"Aksi membentangkan bendera merah putih sepanjang seratus meter ini untuk mengingatkan para generasi muda akan arti penting nasionalisme dan jiwa kepahlawanan," ujar perwakilan Unisri.
Perguruan Tinggi Diminta Ambil Peran Nyata dalam Pembangunan Bangsa
Dalam amanat Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto yang dibacakan Rektor Unisri, perguruan tinggi didorong untuk tidak hanya menjadi penonton dalam perubahan bangsa. Institusi pendidikan tinggi diminta hadir dengan pemikiran jernih, kritik membangun, serta talenta unggul.
"Kita harus hadir dengan pemikiran yang jernih, kritik yang membangun, talenta yang unggul, serta riset dan teknologi yang dapat menjawab kebutuhan bangsa," kata Brian dalam amanat yang dibacakan tersebut.
Pesan ini menjadi pengingat bahwa peringatan kemerdekaan bukan sekadar mengenang perjuangan pahlawan, tetapi juga menghadirkan kontribusi nyata bagi Indonesia. Melalui penghargaan pengabdian, apresiasi prestasi mahasiswa, hingga aksi pembentangan bendera 100 meter, Unisri berupaya memperkuat semangat nasionalisme di lingkungan kampus.