JAWA TENGAH — Penjualan ponsel pintar dunia sedang tidak dalam kondisi baik, tetapi Apple berhasil melawan arus. Serangkaian laporan terbaru dari Counterpoint Research mengungkap bahwa pasar di India, Amerika Latin, dan Eropa mengalami penurunan, sementara Apple justru menambah pangsa pasarnya di ketiga kawasan tersebut.
Data ini menjadi sinyal penting bagi konsumen yang ingin membeli ponsel baru: merek premium tetap punya daya tahan di tengah tekanan ekonomi, dan strategi harga jangka panjang Apple terbukti efektif.
India: iPhone 17 Laris Manis di Tengah Pasar yang Lesu
Antara akhir Maret hingga awal Agustus, penjualan ponsel di India tertinggal 14% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pasar bahkan merosot selama tiga pekan beruntun setelah periode promosi besar-besaran di bulan Juli berakhir.
Di tengah kondisi itu, Apple mencatat pertumbuhan 15%, mengungguli semua kompetitor. Counterpoint mengaitkan kinerja ini dengan permintaan iPhone 17 yang tetap kuat, ditambah program cicilan dan penawaran harga yang berkelanjutan. Sebagai pembanding, Samsung dan OPPO masing-masing hanya tumbuh 4% di negara tersebut.
Counterpoint juga menyoroti efek promosi yang hanya memindahkan permintaan dari pekan sebelum dan sesudah periode diskon, bukan menciptakan pasar baru. Dengan kenaikan harga yang meluas, riset tersebut memperkirakan pasar ponsel India akan menutup 2026 dengan penurunan sekitar 13%.
Eropa: Apple dan Samsung Berbagi Takhta
Pengiriman ponsel di Eropa turun 10% menjadi 35 juta unit pada kuartal kedua, level terlemah untuk periode tersebut dalam tiga tahun terakhir. Namun, Apple menambah sembilan poin persentase pangsa pasar dan kini sejajar dengan Samsung, masing-masing menguasai 34%. Xiaomi berada di posisi ketiga dengan 15%, sementara merek lain tidak ada yang menembus angka 4%.
Counterpoint memperkirakan pasar Eropa masih akan terkontraksi seiring menipisnya stok perangkat. Meski begitu, Apple diprediksi tetap tampil lebih baik dibanding pasar secara keseluruhan.
China: Huawei Memimpin, Apple Menunggu iPhone Baru
Pasar ponsel China turun 8,6% dalam 30 pekan pertama tahun ini. Laju penurunan melebar kembali ke dua digit setelah festival belanja 618 berakhir. Penjualan Apple melambat sejak Juli karena diskon di berbagai kanal ritel mulai ditarik dan sebagian besar permintaan musim panas sudah habis terserap promosi.
Counterpoint memperkirakan masa lesu ini akan bertahan hingga lini iPhone anyar dirilis. Sementara itu, Huawei memimpin pasar sepanjang periode tersebut, menguasai lebih dari seperlima penjualan mingguan sejak April.
Di Amerika Latin, pengiriman ponsel jatuh 10% pada kuartal kedua, penurunan tahunan terdalam sejak kuartal ketiga 2023. Apple dan Samsung menjadi satu-satunya merek yang tumbuh, masing-masing naik 5% dan 6%. Motorola, HONOR, dan Xiaomi justru mengalami kemunduran. Apple disebut menyerap kenaikan biaya komponen tanpa meneruskannya ke harga jual, dan kini menguasai sekitar 51% segmen ponsel di atas USD 600 (sekitar Rp 9,9 juta) di kawasan tersebut.
Harga Memori Masih Tinggi, Pemulihan Baru 2028
Counterpoint memperkirakan pasokan memori yang ketat dan harga yang tinggi akan berlanjut hingga sisa 2026, dengan pemulihan baru terjadi paling cepat 2028. Apple dijadwalkan memperkenalkan lini iPhone terbarunya pada September, yang kabarnya mencakup iPhone 18 Pro, iPhone 18 Pro Max, dan perangkat lipat "iPhone Ultra".
Bagi konsumen Indonesia, tren ini berarti ponsel flagship baru akan tetap mahal dalam waktu dekat. Namun, ketahanan Apple di pasar yang menyusut menunjukkan bahwa ekosistem dan nilai jual kembali perangkatnya masih menjadi pertimbangan utama pembeli.