BOYOLALI — Keluhan warga kembali mencuat soal distribusi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di Boyolali. Sejak pukul 05.00 WIB, antrean kendaraan pemilik Pertalite sudah terlihat mengular di sejumlah SPBU, salah satunya di jalur utama Solo-Semarang. Para buruh bangunan menjadi kelompok yang paling terdampak karena harus kehilangan waktu kerja produktif di pagi hari.
Salah seorang buruh bangunan, Joko Susilo (34), mengaku terpaksa memangkas jam kerjanya demi mendapatkan bahan bakar untuk motor yang digunakannya menuju lokasi proyek di daerah Mojosongo. "Berangkat jam setengah lima, dapat giliran isi malah jam enam lebih. Otomatis sampai proyek telat, upah harian bisa dipotong," ujarnya saat ditemui di antrean.
Pasokan Terbatas Berimbas pada Aktivitas Ekonomi Harian
Kondisi serupa terjadi di SPBU Cepogo dan Ampel. Petugas SPBU menyebutkan, kuota Pertalite untuk periode 22-24 Agustus 2026 baru tersedia sebagian. Akibatnya, penjualan dibatasi maksimal Rp 100 ribu untuk kendaraan roda dua dan Rp 300 ribu untuk roda empat.
Pembatasan ini di luar perkiraan warga yang biasanya hanya mengantre 10-15 menit. "Kemarin masih normal, hari ini tiba-tiba panjang. Banyak yang sampai memilih tidak jadi berangkat kerja karena takut kehabisan bensin di jalan," tambah Joko.
Harga BBM Non-Subsidi Ikut Naik, Pekerja Harian Paling Tertekan
Keluhan di Boyolali ini muncul di tengah penyesuaian harga BBM umum yang berlaku serentak. Harga Pertamax resmi naik menjadi Rp 12.500 per liter, sementara Pertamax Turbo dibanderol Rp 13.500 per liter. Kenaikan ini membuat pekerja harian seperti buruh bangunan semakin kesulitan karena selisih harga dengan Pertalite yang mencapai Rp 2.500 per liter.
Padahal, kebutuhan mobilitas harian mereka tidak bisa ditawar. Sebagian besar buruh di Boyolali mengandalkan sepeda motor untuk menjangkau proyek perumahan yang tersebar di pinggiran kota.
Pemkab Boyolali Dorong Percepatan Distribusi
Menanggapi antrean yang terjadi, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Boyolali menyatakan telah berkoordinasi dengan pihak Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Tengah. Pemerintah kabupaten meminta agar jadwal pengiriman Pertalite ke SPBU di wilayah utara dan selatan Boyolali diprioritaskan pada pagi hari.
Pihak Disperindag juga mengimbau warga untuk tidak melakukan pembelian berlebihan atau panic buying. Stok BBM secara umum dinilai masih aman, namun pendistribusian yang belum merata menjadi pemicu antrean di titik-titik tertentu.
Hingga berita ini diturunkan, antrean di SPBU Boyolali Kota mulai terurai menjelang siang. Namun, kekhawatiran akan terulangnya kejadian serupa di akhir pekan masih membayangi para pengguna Pertalite di wilayah tersebut.