SEMARANG — Ketidakstabilan harga dan pergeseran perilaku konsumen ke platform digital memaksa pelaku ritel elektronik berbenah. Atlanta Elektronik, jaringan toko elektronik yang sudah beroperasi sejak 1995, merespons tantangan itu dengan memperkuat ekosistem bisnis bersama 14 brand, mulai dari Polytron, LG, Samsung, hingga Sharp.
Santoso Kurniadi mengatakan, persaingan saat ini tidak lagi sekadar soal volume penjualan. Menurutnya, toko fisik harus mampu menawarkan nilai lebih yang tidak bisa didapatkan konsumen saat berbelanja daring.
“Sekarang tantangannya berbeda. Kami tidak bisa lagi hanya mengandalkan penjualan dalam jumlah besar, tetapi harus melihat kebutuhan konsumen dan menjaga hubungan dengan para mitra,” katanya dalam keterangan yang diterima di Semarang, baru-baru ini.
Layanan Purnajual Jadi Senjata Toko Fisik
Santoso menyebut, konsumen yang membandingkan harga dengan platform online kerap melupakan aspek layanan purnajual. Padahal, ketika barang bermasalah setelah dibawa pulang, pembeli membutuhkan tempat yang jelas untuk mendapatkan solusi.
“Kalau ada konsumen mengatakan harga online lebih murah, kami harus menjelaskan bahwa konsumen juga perlu melihat tipe barang dan layanan yang didapat. Ketika barang bermasalah setelah dibawa pulang, mereka membutuhkan tempat untuk mendapatkan solusi,” ujarnya.
Strategi ini yang kemudian mendorong Atlanta untuk menjaga hubungan erat dengan grosir, toko mitra, dan produsen. Ekosistem ritel yang kuat dinilai menjadi tameng utama menghadapi perang harga.
Polytron dan Philips: Mitra Sejak Era 1970-an
Ikatan Atlanta dengan sejumlah brand sudah terbangun lintas generasi. Direktur PT Hartono Istana Teknologi, Tekno Wibowo, menyebut Polytron telah membersamai perjalanan Atlanta sejak 1986, menghadirkan produk dari televisi hingga kendaraan listrik.
Hubungan yang lebih panjang lagi dijalin dengan Philips. CEO PT Akari Indonesia, Kenny Kwe, mengungkapkan kerja sama itu telah berlangsung sejak 1970. Produk water heater dan AC dari Philips menjadi bagian dari lini yang dipasarkan Atlanta.
“Ini hubungan bisnis yang sudah diteruskan ke generasi kedua. Saya bangga brand lokal NIKO bisa hadir berdampingan dengan brand internasional maupun lokal lainnya di Atlanta,” kata Siswo Handoyo, Managing Director PT Niko Elektronik Indonesia.
Pasar Berubah, Industri Harus Masuk Mode Bertahan
Senior GM Nasional Sales & Marketing PT Sharp Electronics Indonesia, Andry Adi Utomo, menilai industri elektronik tengah menghadapi tantangan regulasi dan gejolak pasar. Menurutnya, pelaku usaha tidak punya pilihan selain beradaptasi dengan lingkungan yang ada.
“Sekarang tantangannya lebih nyata. Kita harus mampu beradaptasi dengan lingkungan yang ada agar tetap bertahan dan terus memberikan kontribusi kepada masyarakat,” jelasnya.
Senada, Retail Head Director PT Samsung Electronics Indonesia, Praryadi Slamet, menyebut perkembangan kecerdasan buatan (AI) akan mengubah pola konsumsi masyarakat terhadap produk elektronik. Dia optimistis Atlanta bisa terus tumbuh.
“Kami yakin bersama Atlanta dan seluruh mitra elektronik, kita bisa maju dan berkembang bersama. Harapannya Atlanta bukan hanya bertahan 30 tahun, tetapi bisa terus berkembang hingga 100 tahun ke depan,” katanya.
Brand Pendatang Baru Ikut Menjajal Pasar Jateng
Tak hanya brand senior, Atlanta juga menjadi pintu masuk bagi merek yang lebih muda. CEO PT Kreasi Arduo Indonesia, Robert Widjaja, mengatakan Artugo berusaha menghadirkan produk dengan karakter berbeda, seperti freezer berwarna dan kompor berbahan batu.
Dukungan lain datang dari Sony, AQUA, Changhong, Daikin, Midea, MODENA, dan TCL. Ega, Branch Manager Changhong Jawa Tengah, mengapresiasi perjalanan Santoso membangun Atlanta dan berharap kolaborasi keduanya semakin kuat.
Santoso berharap sinergi ini tidak berhenti pada pembukaan showroom, tetapi berlanjut pada penguatan layanan dan jaringan distribusi di seluruh Jawa Tengah.