JAWA TENGAH — Dominasi pabrikan Jepang di pasar otomotif Indonesia ternyata masih sangat kokoh. Meski jumlah merek asal China kini lebih banyak—17 merek berbanding 14 merek—realitas di lapangan menunjukkan preferensi konsumen Tanah Air belum bergeser secara signifikan.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat total penjualan retail dari dealer ke konsumen untuk seluruh merek China baru mencapai 89.210 unit. Capaian ini merupakan akumulasi dari segmen mobil penumpang dan kendaraan komersial.
Strategi Elektrifikasi Belum Berbuah Manis
Serangan merek China ke pasar Indonesia memang mengandalkan mobil listrik sebagai ujung tombak. Strategi ini terlihat jelas dari harga yang kompetitif dan kelengkapan fitur yang ditawarkan, jauh lebih kaya dibandingkan mobil konvensional Jepang di kelas yang sama.
Namun, data penjualan menunjukkan strategi tersebut belum cukup untuk membalikkan keadaan. Konsumen Indonesia masih lebih banyak meminang kendaraan bermesin konvensional yang selama ini identik dengan merek Jepang.
Rasio Penjualan: Jepang Masih Perkasa
Perbandingannya cukup timpang. Dengan torehan 401.719 unit, penjualan mobil Jepang hampir mencapai lima kali lipat dibandingkan total penjualan gabungan seluruh merek China. Ini menegaskan bahwa loyalitas dan kepercayaan terhadap pabrikan Jepang di pasar lokal masih sangat tinggi.
Fenomena ini terjadi di tengah menjamurnya model listrik anyar dari pabrikan China. Banyaknya pilihan baru ternyata belum serta-merta mengubah kebiasaan pembeli yang masih mengutamakan mobil bermesin konvensional.
Pasar Mobil Listrik Tumbuh, Tapi Pangsa Masih Kecil
Di balik dominasi tersebut, segmen elektrifikasi justru menunjukkan pertumbuhan pesat. Berdasarkan data wholesales Gaikindo—distribusi dari pabrik ke dealer—pengiriman mobil listrik sepanjang Januari–Juli 2026 mencapai 83.758 unit.
Jumlah ini hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya 44.404 unit. Pertumbuhan ini menandakan adopsi kendaraan listrik mulai berjalan, meski kontribusinya terhadap total pasar masih jauh tertinggal.
Sebagai pembanding, mobil dengan mesin konvensional masih mendominasi angka wholesales dengan total 433.984 unit pada tujuh bulan pertama 2026. Artinya, mesin bensin dan diesel masih menjadi tulang punggung industri otomotif nasional.
Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah bagi merek China untuk membangun kepercayaan jangka panjang. Harga murah dan fitur melimpah memang menarik, tetapi realitas pasar menunjukkan konsumen Indonesia masih menempatkan nilai jual kembali, jaringan servis, dan rekam jejak keandalan sebagai pertimbangan utama—sesuatu yang sudah lama dibangun pabrikan Jepang.