JAWA TENGAH — Riset terbaru dari platform jual-beli mobil Carwow memotret kondisi unik pasar otomotif Inggris. Separuh lebih pengemudi di sana menyatakan tertarik membeli mobil buatan China sebagai kendaraan berikutnya, namun ketika diminta mengingat mereknya, mayoritas hanya diam atau menjawab salah. Data ini dirilis pada awal 2026 dan jadi pembahasan hangat di kalangan analis industri.
Minat Beli Naik Dua Kali Lipat, Ingatan Merek Tertinggal
Angka minat beli naik signifikan: dari 24% pada awal 2023 menjadi 49% saat ini. Artinya, hampir satu dari dua pengemudi Inggris kini membuka opsi mobil China di daftar pembelian mereka. Lebih menarik lagi, proporsi pengemudi yang sama sekali tidak tahu merek mobil China turun dari 23% pada akhir 2025 menjadi 16% sekarang.
Penurunan angka ketidaktahuan itu tampak positif. Tapi Carwow juga mencatat, ketika responden diminta menyebutkan nama merek secara spesifik, banyak yang kesulitan. Ini kontradiksi yang jarang terlihat di pasar otomotif matang: minat beli tinggi, tapi memori merek lemah.
BYD Paling Dikenal, Xpeng Tertinggal Jauh
Dari lima merek yang disebut dalam riset, BYD menempati posisi kesadaran tertinggi dengan 71% pengemudi Inggris mengetahuinya. Disusul Jaecoo 69%, Omoda 57%, Chery 50%, dan Xpeng hanya 20%. Angka 71% untuk BYD hampir menyamai merek Jepang mapan yang sudah puluhan tahun eksis di Inggris.
Namun, angka itu hanya mengukur "pernah dengar". Ketika responden diminta mengingat nama merek tanpa bantuan, tingkat akurasinya jauh lebih rendah. Carwow menyebut ini fenomena "kenal wajah, lupa nama" di industri otomotif.
Kenapa Konsumen Berani Beli Meski Tak Hafal Merek?
Salah satu alasan paling masuk akal adalah posisi China sebagai negara asal. Bagi banyak konsumen, mobil China kini dianggap mewakili nilai lebih dalam hal harga, teknologi baterai, dan fitur keselamatan. Mereka mungkin tidak ingat persis "Omoda" atau "Jaecoo", tapi ingat bahwa mobil dari China menawarkan paket yang menarik secara harga.
Faktor lain adalah strategi pemasaran pabrikan China yang kerap mengadopsi nama atau desain bergaya Eropa. Beberapa model sengaja memakai badge yang tidak membawa nuansa China kental, sehingga pembeli sulit mengasosiasikan mereknya dengan asal pabrikan. Di sisi lain, tren elektrifikasi juga berperan—konsumen yang mencari mobil listrik murah lebih fokus pada spesifikasi baterai dan jarak tempuh, bukan nama merek.
Tantangan Besar: Loyalitas Merek Hampir Nol
Meski angka minat beli tinggi, kelemahan fundamental terlihat jelas: loyalitas merek belum terbentuk. Jika keputusan pembelian hanya didorong oleh harga, pabrikan China akan mudah kehilangan pelanggan begitu kompetitor menawarkan harga lebih rendah. Ini berbeda dengan konsumen Jepang atau Jerman yang punya ikatan emosional dengan merek.
Carwow juga tidak menyebut detail soal keandalan jangka panjang atau biaya servis dalam riset ini. Padahal dua faktor itu jadi pertimbangan utama sebelum keputusan pembelian final. Artinya, minat yang tinggi belum tentu berbanding lurus dengan penjualan yang stabil.
Pelajaran untuk Pasar Indonesia
Kondisi Inggris ini punya kemiripan dengan Indonesia. BYD, Chery, Omoda, dan Jaecoo sudah resmi masuk pasar Tanah Air, dan kesadaran mereknya meningkat dalam dua tahun terakhir. Namun, konsumen Indonesia juga belum tentu bisa membedakan lini produk satu merek dengan merek lain, khususnya di segmen mobil listrik.
Bagi calon pembeli mobil China di Indonesia, riset Inggris ini memberi gambaran: jangan hanya tergoda harga murah atau fitur melimpah. Cek jaringan servis, ketersediaan suku cadang, dan rekam jejak pabrikan di pasar lain. Minat pasar boleh tinggi, tapi keputusan membeli tetap perlu data riil yang bisa dipertanggungjawabkan.
Pada akhirnya, tren di Inggris menunjukkan arah industri otomotif global semakin terpusat pada nilai ketimbang nama merek. Ini peluang bagi pabrikan China untuk membuktikan diri, sekaligus peringatan bahwa gebrakan penjualan tanpa membangun ekuitas merek hanya akan berumur pendek.