Pencarian

Lebih dari 1.500 Siswa SD di Semarang Alami Karies Gigi, DPD RI Soroti Kantin Sekolah

Jumat, 16 Oktober 2026 • 09:46:01 WIB
Lebih dari 1.500 Siswa SD di Semarang Alami Karies Gigi, DPD RI Soroti Kantin Sekolah
Lebih dari 1.500 siswa SD di Semarang tercatat mengalami karies gigi.

SEMARANG — Karies gigi pada anak sekolah dasar masih menjadi persoalan serius di Kota Semarang. Dokter gigi Puskesmas Halmahera, drg. Yetty Kusniar, menyebut lebih dari separuh siswa SD di wilayah kerjanya mengalami gigi berlubang.

Dari 3.117 siswa SD yang tercatat, lebih dari 1.500 anak di antaranya masuk kategori karies. "Kalau yang SD sekitar 50 persen lebih, masih besar sekali untuk angka kariesnya," kata Yetty dalam kunjungan kerja Anggota DPD RI, Muhdi, terkait CKG di Puskesmas Halmahera Semarang, Kamis (15/10/2026).

Makanan Manis Lengket Jadi Pemicu Utama

Pola konsumsi anak disebut Yetty sebagai salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Makanan dan minuman dengan kandungan gula tinggi, terutama yang bertekstur lengket, meningkatkan risiko karies jika tidak diimbangi perawatan gigi yang baik.

"Pola makan anaknya, banyak makan minuman yang manis, yang lengket. Apalagi sekarang banyak jenis makanan, minuman yang memang tinggi gula dan itu yang menyebabkan angka kariesnya masih tinggi," bebernya.

Selain pola makan, kebiasaan menjaga kebersihan gigi dan mulut yang belum tepat turut memengaruhi kondisi tersebut. Anak-anak usia SD dinilai belum terbiasa menyikat gigi secara rutin dan benar.

Kasus Karies Siswa SMP Lebih Rendah

Yetty menjelaskan, jumlah kasus karies pada siswa SMP di wilayah tersebut cenderung lebih rendah dibandingkan siswa SD. Kondisi itu berkaitan dengan kebiasaan menjaga kebersihan mulut yang mulai lebih diperhatikan ketika anak beranjak remaja.

Perbedaan itu menunjukkan bahwa kesadaran merawat gigi bisa terbentuk seiring bertambahnya usia. Namun, tanpa pendampingan sejak dini, anak-anak SD berisiko terus mengalami kerusakan gigi yang berdampak pada kesehatan secara keseluruhan.

DPD RI Minta Sekolah dan Pemda Ikut Ambil Peran

Anggota DPD RI, Muhdi, menilai penanganan kasus karies pada anak tidak cukup hanya mengandalkan puskesmas. Menurutnya, sekolah dan pemerintah daerah perlu ikut mengambil peran, termasuk memperhatikan kebiasaan konsumsi makanan dan minuman yang dijual di kantin sekolah.

"Edukasi apakah gurunya perlu diberikan kewajiban semuanya untuk terus-menerus melakukan (sosialiasi) itu. Apakah di sana UKGS-nya juga sudah jalan atau jangan-jangan malah kantin-kantinnya seperti tadi (jual makan minuman manis)," kata Muhdi.

Ia menambahkan, guru memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan anak karena lebih banyak berinteraksi dengan siswa selama kegiatan belajar di sekolah.

Edukasi Berkelanjutan Jadi Kunci

Hasil pemeriksaan kesehatan gigi perlu ditindaklanjuti melalui edukasi berkelanjutan dan pengawasan lingkungan sekolah. Program Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) dinilai perlu dipastikan berjalan, bukan sekadar formalitas.

Pengawasan kantin sekolah juga menjadi sorotan. Jajanan manis dan lengket yang dijual bebas di lingkungan sekolah berpotensi menggagalkan upaya pencegahan karies jika tidak diimbangi pembatasan atau edukasi kepada pedagang.

Puskesmas Halmahera mencatat temuan ini sebagai dasar perlunya kolaborasi lintas sektor. Tanpa keterlibatan sekolah, orang tua, dan pemerintah daerah, angka karies pada anak SD di Semarang berpotensi tetap tinggi.

Follow jatenglink.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: joglojateng.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks