SEMARANG — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Pendidikan resmi menerapkan "Mode Tandur" di jenjang sekolah dasar sebagai investasi perdamaian bangsa. Pendekatan ini dirancang untuk mencegah lahirnya generasi yang saleh secara ritual namun gagap secara sosial.
Mengapa "Mode Tandur" Dianggap Penting di Jawa Tengah?
Konsep "Mode Tandur" merupakan akronim dari nilai tasamuh (toleransi) dan tahaddur (berkeadaban) yang ditanamkan melalui proses pendidikan di kelas. Istilah "tandur" sendiri dalam bahasa Jawa berarti menanam—sebuah metafora bahwa nilai-nilai moderasi harus ditanam sejak dini, bukan dipaksakan saat dewasa.
Provinsi Jawa Tengah yang memiliki keragaman budaya dan agama membutuhkan pendekatan yang kontekstual. Alih-alih sekadar mengajarkan teori toleransi, "Mode Tandur" mengintegrasikan praktik langsung dalam keseharian siswa di sekolah.
Tasamuh dan Tahaddur: Dua Sisi Koin Moderasi
Tasamuh mengajarkan siswa untuk menerima perbedaan tanpa kehilangan identitas keagamaan masing-masing. Sementara tahaddur mendorong siswa untuk bersikap beradab dalam interaksi sosial—menghormati teman yang berbeda keyakinan, bergotong royong, dan menyelesaikan konflik tanpa kekerasan.
Keduanya tidak bisa dipisahkan. Tanpa tasamuh, toleransi hanya menjadi slogan. Tanpa tahaddur, perbedaan justru melahirkan gesekan. "Mode Tandur" menyatukan keduanya dalam praktik pembelajaran sehari-hari di SD.
Mengapa Sekolah Dasar Menjadi Sasaran Utama?
Anak usia SD berada pada fase pembentukan karakter yang paling fundamental. Menurut Dinas Pendidikan Jateng, menanamkan nilai moderasi di usia ini lebih efektif dibandingkan mengubah pola pikir saat remaja atau dewasa.
Program ini tidak menambah mata pelajaran baru, melainkan mengintegrasikan nilai tasamuh dan tahaddur ke dalam mata pelajaran yang sudah ada seperti Pendidikan Agama, PPKn, dan muatan lokal. Guru juga dibekali modul khusus tentang cara mengelola diskusi antaragama di kelas tanpa memicu perdebatan.
Bagaimana Dampaknya bagi Siswa dan Sekolah?
Dampak jangka panjang yang diharapkan adalah lahirnya generasi yang tidak hanya taat beribadah, tetapi juga mampu hidup berdampingan dengan siapa pun. Di tingkat sekolah, "Mode Tandur" juga mendorong terciptanya lingkungan belajar yang inklusif dan bebas dari perundungan berbasis agama.
Sejumlah SD di Semarang dan Surakarta yang menjadi percontohan mulai menunjukkan perubahan. Siswa lebih terbuka dalam berteman tanpa memandang latar belakang keagamaan, dan guru melaporkan penurunan kasus konflik ringan di kelas.
Apa yang Membedakan "Mode Tandur" dari Program Moderasi Lain?
Berbeda dengan program moderasi beragama yang bersifat seremonial, "Mode Tandur" menekankan pembiasaan. Tidak ada seminar besar atau deklarasi—semua dilakukan di dalam kelas, dalam interaksi kecil sehari-hari antara guru dan murid.
Pendekatan ini juga bersifat bottom-up. Guru diberi keleluasaan untuk menyesuaikan metode dengan kondisi sosial budaya masing-masing daerah. Di wilayah pesisir, misalnya, nilai tahaddur bisa diintegrasikan melalui tradisi lokal seperti kerja bakti dan sedekah bumi.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang "Mode Tandur"
Apa itu "Mode Tandur" dalam pendidikan dasar?
"Mode Tandur" adalah pendekatan moderasi beragama di SD yang menggabungkan nilai tasamuh (toleransi) dan tahaddur (keadaban) dalam proses belajar-mengajar, tanpa menghilangkan identitas keagamaan siswa.
Apakah "Mode Tandur" akan diterapkan di semua SD di Jawa Tengah?
Dinas Pendidikan Jateng menargetkan implementasi bertahap. Sejumlah sekolah percontohan di Semarang dan Surakarta sudah berjalan, dan akan diperluas ke kabupaten/kota lain berdasarkan evaluasi hasil.