JAWA TENGAH — Pergerakan rupiah pagi ini sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang kompak tertekan. Yen Jepang melemah 0,14 persen, baht Thailand turun 0,17 persen, dan won Korea Selatan menjadi yang terlemah dengan koreksi 0,71 persen. Dolar Singapura dan yuan China juga tak luput dari tekanan, masing-masing melemah 0,11 persen dan 0,02 persen.
Dolar AS Perkasa, Mata Uang Negara Maju Ikut Tertekan
Tekanan tidak hanya dirasakan oleh mata uang emerging market. Di kubu negara maju, euro Eropa melemah 0,12 persen terhadap dolar AS, diikuti poundsterling Inggris yang turun tipis 0,01 persen. Franc Swiss menjadi yang paling tertekan dengan pelemahan 0,27 persen, sementara dolar Australia dan dolar Kanada juga berada di zona merah.
Dua Skenario yang Bikin Pasar Wait and See
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah saat ini berada dalam fase konsolidasi. Dua faktor utama menjadi penahan pergerakan: negosiasi AS-Iran yang belum jelas arahnya serta rilis data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia yang dijadwalkan besok.
"Investor masih wait and see perkembangan kesepakatan AS-Iran yang masih limbung. Selain itu investor juga mengantisipasi data penting domestik besok yaitu inflasi dan perdagangan. Harga minyak yang sudah menurun bisa mendukung rupiah," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
BI: Ada Kebutuhan Valas Musiman, Stabilitas Tetap Dijaga
Bank Indonesia (BI) mencatat tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor eksternal. Konflik di Timur Tengah memang masih menjadi sumber utama ketidakpastian global, namun ada pula peningkatan kebutuhan valuta asing (valas) secara musiman di dalam negeri.
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, kebutuhan dolar AS meningkat untuk pembayaran utang luar negeri (ULN) dan repatriasi dividen. Di saat yang sama, arus masuk dolar AS ke pasar domestik masih terbatas.
"Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, around the world, around the clock," tegas Ramdan dalam pernyataan resminya, Jumat (29/5) lalu.
Apa Arti Pelemahan Ini bagi Investor dan Pelaku Usaha?
Bagi importir yang memiliki kewajiban pembayaran dalam dolar AS, pelemahan rupiah berarti beban biaya yang lebih tinggi. Sebaliknya, eksportir bisa menikmati keuntungan lebih besar dari hasil penjualan dalam dolar setelah dikonversi ke rupiah.
Dari sisi pasar saham, pelemahan rupiah kerap menjadi sentimen negatif karena meningkatkan risiko inflasi impor dan membebani emiten dengan utang dolar. Investor biasanya akan mencermati data inflasi besok sebagai indikasi apakah BI perlu menaikkan suku bunga untuk menahan pelemahan lebih lanjut.
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.750 hingga Rp17.800 per dolar AS pada perdagangan hari ini.