SEMARANG — Rusno (56) sudah berjualan buah potong keliling sejak 1998. Namun dalam beberapa bulan terakhir, ia mengaku makin sulit menutup biaya produksi karena harga bahan baku dan kemasan terus merangkak naik.
“Yang plastik yang dulu Rp5.000 sekarang jadi Rp11.000. Jadinya semuanya ikut naik,” ujarnya saat ditemui di kawasan Peleburan, Kota Semarang, Sabtu (6/6/2026).
Tak hanya kemasan, harga buah-buahan seperti semangka dan pepaya juga ikut terdongkrak Rp3.000 hingga Rp5.000 per buah. Meski begitu, Rusno memilih tidak menaikkan harga jual agar pelanggan setianya tidak beralih.
Konsekuensinya, keuntungan yang ia peroleh kian menipis. Jika dulu dalam sehari ia bisa menjual hingga 80 wadah buah potong, kini hanya 30 hingga 50 wadah. Waktu berjualan pun molor. “Dulu jam tiga sore sudah habis. Sekarang baru selesai setelah magrib,” keluhnya.
Daya Beli Masyarakat Melemah, Pola Konsumsi Berubah
Lesunya transaksi juga dirasakan sebagian pelaku UMKM lain di Jawa Tengah. Meski tidak semuanya mengalami penurunan tajam, perubahan pola konsumsi mulai tampak. Konsumen kini lebih selektif dan cenderung memilih produk dengan harga terjangkau.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah, Eddy Sulistiyo Bramiyanto, menilai situasi ini harus direspons dengan strategi yang tidak hanya mengandalkan persaingan harga. Menurutnya, pelaku usaha perlu menciptakan nilai tambah agar produknya tetap diminati.
“UMKM harus punya keunggulan. Kalau kamu punya inovasi dan pasar menerima, maka harga itu bukan lagi jadi satu-satunya pertimbangan,” kata Eddy.
Digitalisasi dan Inovasi Jadi Kunci Bertahan
Eddy mendorong para pelaku UMKM untuk memanfaatkan platform digital guna memperluas jangkauan pemasaran dan mencari ceruk pasar baru. Ia menekankan bahwa adaptasi terhadap perubahan perilaku konsumen menjadi syarat mutlak di tengah tekanan ekonomi.
“Ayo digitalisasi, ayo masuk ke inovasi, lihat ceruk pasar yang ada dan kembangkan itu. Kalau dilakukan, UMKM pasti bisa masuk,” ujarnya.
Menurut Eddy, penguatan daya saing tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi. Pelaku usaha harus mampu membaca kebutuhan pasar dan terus berinovasi mengikuti perkembangan zaman. Ia menegaskan, keberlangsungan UMKM membutuhkan kolaborasi semua pihak, termasuk kesiapan pelaku usaha untuk berubah.
“Pemerintah tidak bisa jalan sendiri. UMKM juga harus beradaptasi, harus inovatif, dan harus mau berubah,” tegasnya.