PEMALANG — Kekeringan akibat musim kemarau membuat warga Desa Pulosari, Pemalang, harus membeli air bersih dengan harga selangit. Dalam sebulan, pengeluaran untuk air bisa mencapai Rp 500 ribu, setara dengan harga dua tangki air berkapasitas 6.500 liter.
Satu tangki air bersih dihargai Rp 250 ribu oleh penjual lokal. Menurut warga setempat, volume tersebut hanya bertahan selama dua pekan untuk kebutuhan memasak, mandi, dan mencuci.
Krisis Tahunan di Dataran Tinggi Pemalang
Plenong (28), warga Desa Pulosari, menuturkan bahwa hampir seluruh tetangganya menghadapi masalah serupa. Saat musim hujan, mereka mengandalkan tampungan air hujan. Namun cadangan itu cepat habis begitu kemarau tiba.
"Sudah sekitar dua sampai tiga bulan ini krisis air. Kadang dapat bantuan, kadang harus beli sendiri," kata Plenong saat mengantre bantuan air bersih, Minggu (12/7/2026).
Ia menjelaskan, air tangki yang dibeli kemudian disimpan di bak penampungan masing-masing rumah. Meski bantuan distribusi air bersih dari berbagai pihak beberapa kali datang, Plenong menilai itu belum menjadi solusi jangka panjang.
Harapan Warga: Jaringan PAM Hidup Kembali
Warga berharap ada sumber air atau jaringan perpipaan yang bisa mengalir lagi ke desa mereka. "Dulu pernah ada, tapi sudah lama mati," ungkap Plenong.
Krisis air bersih di Pulosari menjadi persoalan tahunan yang belum terselesaikan. Ketiadaan infrastruktur air baku membuat warga bergantung pada air hujan dan pembelian air tangki dengan biaya yang memberatkan ekonomi rumah tangga.