Pencarian

Wakil Wali Kota Solo Soroti 65 Persen Sampah Organik, Gereja Santo Petrus Bagikan Komposter ke Warga Punggawan

Rabu, 15 Juli 2026 • 20:13:01 WIB
Wakil Wali Kota Solo Soroti 65 Persen Sampah Organik, Gereja Santo Petrus Bagikan Komposter ke Warga Punggawan
Astrid, Wakil Wali Kota Solo, menyerahkan enam unit komposter kepada Kelurahan Punggawan untuk mengolah sampah organik.

SOLO — Astrid menyebut sinergi antara pemerintah, komunitas, dan lembaga keagamaan menjadi kunci dalam membangun budaya pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Menurutnya, persoalan sampah tidak bisa ditangani pemerintah sendirian.

“Kami sangat mengapresiasi Gereja Santo Petrus Purwosari yang telah menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan. Ini adalah contoh bahwa persoalan sampah adalah tanggung jawab bersama,” ujar Astrid dalam keterangannya.

65 Persen Sampah Organik Bisa Dikurangi dari Rumah

Berdasarkan data Pemkot Surakarta, sekitar 65 persen timbunan sampah di Kota Bengawan merupakan sampah organik. Astrid menekankan, jika sampah tersebut dipilah sejak dari rumah dan diolah menjadi kompos, volume yang dikirim ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Putri Cempo bisa berkurang signifikan.

“Sebagian besar sampah kita adalah sampah organik yang sebenarnya masih memiliki nilai manfaat. Kalau dipilah sejak awal, kemudian diolah menjadi kompos, bukan hanya mengurangi beban TPA, tetapi juga menghasilkan pupuk yang bisa dimanfaatkan masyarakat,” jelasnya.

Kompos untuk Urban Farming dan Ketahanan Pangan

Astrid menambahkan, kompos dari sampah organik bisa digunakan untuk penghijauan lingkungan atau mendukung urban farming di tengah keterbatasan lahan perkotaan. Langkah itu dinilai mampu memperbaiki kualitas lingkungan sekaligus mendukung ketahanan pangan keluarga.

Enam unit komposter yang diserahkan kepada Kelurahan Punggawan disesuaikan dengan jumlah rukun warga (RW) di wilayah tersebut. Bantuan ini diharapkan menjadi sarana edukasi dan mendorong kebiasaan baru warga dalam mengelola sampah organik secara mandiri.

Pelatihan Tak Boleh Berhenti di Acara Seremonial

Astrid berharap pelatihan pembuatan kompos tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan berkembang menjadi gerakan masyarakat yang berkelanjutan. Ia mendorong warga memulai dari langkah sederhana seperti memilah sampah dari rumah dan mengurangi food waste.

“Jika dilakukan bersama-sama, dampaknya akan sangat besar bagi kebersihan Kota Surakarta. Semoga kolaborasi ini bisa menjadi inspirasi bagi komunitas dan lembaga keagamaan lainnya untuk ikut bergerak menjaga lingkungan,” pungkasnya.

Melalui kolaborasi ini, Pemkot Surakarta berharap pengelolaan sampah berbasis masyarakat semakin berkembang. Penanganan sampah tidak lagi bertumpu pada pemerintah, tetapi menjadi gerakan bersama seluruh warga mewujudkan Surakarta yang bersih, hijau, dan berkelanjutan.

Bagikan
Sumber: mettanews.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks