PEMALANG — Kembali aktifnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah libur sekolah ternyata tidak otomatis mengerek pendapatan pedagang di Pasar Bantarbolang. Sebaliknya, sejumlah pedagang eceran justru melaporkan penurunan omzet yang cukup mengkhawatirkan sejak program pemerintah pusat itu berjalan kembali.
Berdasarkan pantauan di lokasi, Rabu (22/7/2026), pergerakan harga sembilan bahan pokok di pasar tradisional tersebut tidak seragam. Ada komoditas yang harganya melonjak, namun ada pula yang justru ambles. Kondisi ini membuat daya beli pembeli semakin selektif.
Harga Pangan Bergerak Tak Beraturan
Sri Asih, pedagang sayur di Pasar Bantarbolang, membeberkan data harga terkini di lapaknya. Harga bawang merah saat ini dibanderol Rp 38.000 per kilogram, sementara cabai merah bertahan di angka Rp 40.000 per kilogram. Kondisi berbeda terjadi pada tomat yang harganya turun drastis dari Rp 8.000 menjadi hanya Rp 6.000 per kilogram. Kentang masih dijual di harga Rp 18.000 per kilogram.
"Kalau tomat lagi murah, tapi ya itu tadi, pembeli mulai pilih-pilih. Tapi kalau cabai merah sih masih tetap harganya," ujar Sri Asih kepada Joglo Jateng.
Omzet Turun drastis, Pedagang Minta MBG Dihapus
Keluhan lebih keras disampaikan Daryatun, pedagang yang sudah 16 tahun berjualan di pasar tersebut. Ia mencatat kenaikan harga yang cukup signifikan pada sejumlah komoditas. Harga telur ayam naik dari Rp 22.000 menjadi Rp 27.000 per kilogram. Begitu pula dengan brokoli yang naik dari Rp 17.000 menjadi Rp 22.000 per kilogram. Kacang-kacangan naik dari Rp 6.000 ke Rp 8.000. Lonjakan paling mencolok terjadi pada buncis yang melonjak drastis dari Rp 6.000 menjadi Rp 12.000 per kilogram.
Ironisnya, meski harga jual di pasaran sedang naik, Daryatun mengaku pendapatan penjualannya justru semakin berkurang. Ia menyuarakan harapan tegas agar program MBG dihilangkan karena dinilai tidak berpihak pada pedagang kecil di pasar tradisional.
"Meskipun harga naik, pendapatan saya malah berkurang. Saya lebih memilih program ini dihilangkan saja," tegas Daryatun.
Dampak MBG terhadap Pedagang Eceran
Fenomena ini menunjukkan bahwa program MBG yang menyasar kebutuhan gizi anak sekolah belum tentu berdampak positif secara merata bagi seluruh rantai pasok pangan. Pedagang eceran di pasar tradisional justru menjadi pihak yang paling merasakan dampak negatif dari perubahan pola belanja konsumen yang lebih selektif dan terarah.
Belum ada tanggapan resmi dari pihak Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Dinperindagkop UKM) Kabupaten Pemalang maupun pengelola program MBG setempat terkait keluhan para pedagang ini. Namun, data dari lapangan menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi di sektor pasar tradisional masih menghadapi tantangan serius di tengah berjalannya program-program bantuan pangan nasional.