SEMARANG — Perekonomian Jawa Tengah pada triwulan I 2026 tumbuh 5,89 persen secara tahunan (year on year/yoy), melampaui laju ekonomi nasional yang tercatat 5,61 persen. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah M. Noor Nugroho mengungkapkan konsumsi rumah tangga dan investasi menjadi motor utama pertumbuhan. Momentum Ramadan dan Idulfitri mendorong mobilitas masyarakat sehingga konsumsi rumah tangga tetap menjadi sumber pertumbuhan utama.
Konsumsi Rumah Tangga dan Investasi Tumbuh Signifikan
Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,08 persen (yoy), sementara investasi melonjak hingga 9,61 persen (yoy). Kinerja investasi didukung pembangunan pabrik di kawasan industri, proyek strategis pemerintah, serta pertumbuhan konsumsi pemerintah yang mencapai 19,36 persen seiring percepatan pembangunan infrastruktur menjelang arus mudik Lebaran.
Sektor Konstruksi dan Akomodasi Jadi Primadona
Dari sisi lapangan usaha, sektor konstruksi menjadi penyumbang pertumbuhan tertinggi dengan kenaikan 11,91 persen (yoy). Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 14,14 persen (yoy), didorong meningkatnya okupansi hotel dan aktivitas pariwisata selama Ramadan dan Idulfitri.
Sektor industri pengolahan tetap tumbuh positif sebesar 4,04 persen (yoy), meski melambat dibanding triwulan sebelumnya. Adapun sektor perdagangan masih mampu tumbuh 5,22 persen (yoy) berkat daya beli masyarakat yang tetap terjaga.
Inflasi Terjaga, Kredit UMKM Mulai Membaik
Pada sisi harga, inflasi Jawa Tengah meningkat dibanding triwulan sebelumnya. Kenaikan terutama dipengaruhi normalisasi tarif listrik setelah berakhirnya program diskon, serta naiknya harga emas dunia yang mendorong inflasi kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.
Di sektor keuangan, penyaluran kredit perbankan menunjukkan perbaikan meski masih terkontraksi 0,63 persen (yoy) menjadi Rp385,82 triliun. Kredit UMKM juga membaik dengan kontraksi menyempit menjadi 2,11 persen (yoy), sementara kredit konsumsi rumah tangga tetap tumbuh positif sebesar 4,43 persen (yoy).
Merchant QRIS Tembus 2,1 Juta, Pengangguran Turun
Digitalisasi sistem pembayaran terus berkembang. Jumlah merchant QRIS di Jawa Tengah telah menembus lebih dari 2,1 juta, seiring meningkatnya penggunaan pembayaran digital oleh masyarakat.
Kinerja ketenagakerjaan juga membaik dengan tingkat pengangguran terbuka turun dari 4,33 persen pada Februari 2025 menjadi 4,24 persen pada Februari 2026. Indeks penghasilan dan indeks ketersediaan lapangan kerja turut berada pada level optimistis.
Prospek 2026: Masih Kuat dengan Risiko Global
Ke depan, Bank Indonesia memperkirakan ekonomi Jawa Tengah sepanjang 2026 tetap tumbuh kuat. Pertumbuhan akan ditopang konsumsi rumah tangga, investasi, industri pengolahan, konstruksi, pertanian, serta sektor akomodasi dan makan minum yang dinilai berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru.
Inflasi sepanjang 2026 diperkirakan tetap berada dalam sasaran 2,5±1 persen (yoy). Meski demikian, risiko kenaikan harga masih dipengaruhi konflik geopolitik global, fluktuasi harga emas, potensi gangguan pasokan energi, hingga dampak perubahan iklim terhadap produksi pertanian.