JAWA TENGAH — Indosat Ooredoo Hutchison menegaskan operator seluler kini bergerak dari sekadar penyedia konektivitas menuju perusahaan teknologi yang menggarap AI, cloud, dan IoT. Pergeseran model bisnis ini dibahas dalam The 3rd Digital Transformation Forum 2026 di Jakarta, Senin (21/9/2026). Nilai ekonomi terbesar dinilai berpindah ke lapisan layanan di atas jaringan, bukan lagi ke paket data semata.
Machdi Fauzi, VP Head of Ecosystem Regulatory Affairs Indosat Ooredoo Hutchison, menyatakan konektivitas tidak lagi menjadi produk akhir. Jaringan telekomunikasi diposisikan sebagai fondasi untuk membangun layanan digital bernilai tambah. Perubahan ini menandai industri telekomunikasi memasuki fase bisnis yang lebih luas dari sekadar menjual paket data dan layanan komunikasi.
Mengapa Operator Harus Bertransformasi Sekarang
Perkembangan AI, IoT, dan cloud membuka ruang baru bagi operator untuk mengembangkan layanan digital dengan margin lebih tinggi. Machdi menyebut monetisasi terbesar ke depan justru berada di lapisan aplikasi, solusi digital, dan AI. Artinya, pendapatan operator tidak lagi bergantung pada pelanggan ritel yang membeli kuota internet.
Perusahaan dan sektor industri menjadi pasar baru yang potensial. Operator dapat memanfaatkan infrastruktur jaringan yang sudah terbangun untuk menopang kebutuhan cloud, IoT, analitik data, hingga AI milik korporasi. Model bisnis ini mengubah posisi operator dari penyedia konektivitas menjadi mitra transformasi digital.
Kolaborasi Regulator Jadi Kunci
Machdi menekankan bahwa lompatan ekosistem digital Indonesia bergantung pada kerja sama antara regulator dan operator. Tanpa kerangka regulasi yang mendukung, investasi pada teknologi baru berisiko tertahan. Hal ini mencakup ketersediaan spektrum, kepastian aturan, hingga pengembangan talenta digital dalam negeri.
"Konektivitas tetap menjadi fondasi utama, tetapi monetisasi terbesar di masa depan ada pada lapisan atas—seperti aplikasi, solusi digital, dan AI," kata Machdi. Ia menambahkan bahwa kolaborasi regulator dan operator adalah kunci utama agar ekosistem digital Indonesia bisa melompat lebih jauh.
Industri Sawit Jadi Contoh Pasar Baru
Sektor perkebunan sawit menjadi salah satu contoh nyata kebutuhan teknologi yang spesifik. Mochamad Husni, Pengurus Bidang Komunikasi GAPKI, menyebut industri sawit mencakup sekitar 16 juta hektare lahan dan melibatkan sekitar 16 juta tenaga kerja. Proses pencatatan kebun, logistik tandan buah segar (TBS), hingga pelaporan keberlanjutan masih banyak dilakukan secara manual.
Teknologi seperti AI, drone, citra satelit, IoT, dan analitik data dinilai mampu memangkas proses manual tersebut. Prediksi produksi dan kemampuan traceability menjadi dua area yang paling terbantu. Konektivitas di kawasan perkebunan pun membuka pintu bagi operator untuk menawarkan layanan IoT dan solusi digital kepada pelaku industri.
Tantangan di Balik Transformasi
Peralihan dari Telco ke TechCo bukan sekadar soal mengadopsi teknologi baru. Operator membutuhkan jaringan yang memadai, spektrum, regulasi yang kondusif, talenta digital, mitra industri, dan model bisnis yang memungkinkan investasi berkelanjutan. Tanpa ekosistem pendukung tersebut, transformasi berisiko berhenti di tataran wacana.
Bagi pelaku bisnis digital dan investor, pergeseran ini membuka peluang kemitraan di sektor vertikal seperti perkebunan, logistik, dan manufaktur. Operator seluler berpotensi menjadi penyedia solusi terintegrasi, bukan hanya pemasok konektivitas. Dampaknya, lanskap persaingan di pasar layanan digital Indonesia akan melibatkan operator sebagai pemain baru yang serius.