SEMARANG — Mayoritas barang yang masuk ke Jawa Tengah dari luar negeri ternyata tidak dinikmati langsung oleh konsumen, melainkan diserap untuk kebutuhan produksi pabrik. Data Dinas Perdagangan Jateng menunjukkan porsi bahan baku dan bahan penolong industri mencapai 84,39 persen dari total impor, disusul barang modal sebesar 10,75 persen dan barang konsumsi hanya 4,86 persen.
Angka tersebut diungkap dalam forum "Regular Update Session" yang digelar KSO SCISI di Semarang, Kamis (13/2). Acara ini mempertemukan pemerintah, surveyor, dan pelaku usaha untuk membahas dinamika tata niaga impor terbaru.
Mesin dan Tekstil Jadi Komoditas Terbesar
Suci menjelaskan bahwa perhatian publik selama ini lebih banyak tertuju pada capaian ekspor. Padahal, keberhasilan ekspor tidak dapat dipisahkan dari sistem impor yang sehat dan produktif.
"Impor bukan sekadar memasukkan barang dari luar negeri, melainkan menjadi bagian penting dari rantai pasok industri melalui penyediaan bahan baku, bahan penolong, dan barang modal yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk bernilai tambah," kata Suci dalam keterangannya, Kamis.
Dari sisi komoditas, kebutuhan terbesar jatuh pada mesin serta peralatan mekanis dan elektrik yang mencapai 26,07 persen. Disusul tekstil dan produk tekstil sebesar 14,57 persen, serta plastik dan karet dengan porsi 11,22 persen.
Regulasi Berubah Cepat, Importir Diminta Adaptif
Pimpinan KSO SCISI, Feruz Robby Nugraha, mengingatkan bahwa perubahan kebijakan yang cepat mengharuskan importir memahami setiap ketentuan agar proses impor berjalan sesuai regulasi. KSO SCISI merupakan kerja sama operasi antara PT Sucofindo dan PT Surveyor Indonesia yang ditunjuk Kementerian Perdagangan untuk melakukan Verifikasi atau Penelusuran Teknis Impor (VPTI).
"Dinamika regulasi impor berkembang sangat cepat. Pelaku usaha dituntut untuk semakin adaptif dan siap dalam memenuhi berbagai ketentuan, termasuk dalam proses VPTI maupun sertifikasi SNI yang kini menjadi perhatian penting dalam tata niaga impor nasional," ujar Feruz.
Bagaimana Impor Menopang Sektor Manufaktur Jateng?
Berbagai komoditas impor tersebut menjadi penopang utama bagi industri tekstil, garmen, alas kaki, furnitur, elektronik, serta sektor manufaktur unggulan lainnya di Jateng. Tanpa pasokan bahan baku dari luar negeri, rantai produksi pabrik-pabrik lokal dipastikan terganggu.
Melalui forum rutin ini, KSO SCISI berkomitmen mendampingi pelaku usaha menghadapi perkembangan tata niaga nasional. Peserta mendapatkan pemahaman komprehensif mengenai ketentuan impor, mulai dari pemenuhan persyaratan VPTI hingga implementasi SNI.
"Kami berkomitmen untuk tidak hanya menghadirkan layanan VPTI yang berkualitas, profesional, dan terpercaya, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi para pelanggan melalui edukasi, pendampingan, serta penguatan pemahaman terhadap regulasi impor yang terus berkembang," pungkas Feruz.