SEMARANG — Upaya membangun budaya tertib berlalu lintas di Jawa Tengah tidak lagi bertumpu pada penegakan aturan semata. Direktorat Lalu Lintas Polda Jateng menginisiasi program Polantas Karib yang menjadikan komunitas sebagai mitra strategis dalam mengedukasi masyarakat.
Program ini merangkul wartawan, pengemudi ojek online, klub motor, organisasi kemasyarakatan, hingga kelompok pemuda. Melalui pendekatan ini, pesan keselamatan berkendara diharapkan lebih mudah diterima karena disampaikan oleh lingkungan yang dekat dengan keseharian warga.
Komunitas Jadi Ujung Tombak Edukasi Keselamatan
Direktur Lalu Lintas Polda Jawa Tengah Kombes Pol Maesa Soegriwo menyebut keterlibatan komunitas menjadi kunci perluasan jangkauan edukasi. Wartawan berperan menyampaikan informasi ke publik, sementara pengemudi ojol dan klub motor bersentuhan langsung dengan aktivitas di jalan raya.
“Kami mengajak teman-teman wartawan, ojol, organisasi dan klub motor untuk bersama-sama mengedukasi masyarakat. Selain kegiatan olahraga dan kebersamaan, kami juga menitipkan pesan-pesan informasi tentang lalu lintas,” ujar Maesa.
Olahraga Bareng dan Ngobrol Santai Jadi Media Edukasi
Konsep Polantas Karib mengemas edukasi dalam suasana cair. Kegiatan olahraga, seperti bermain bola, menjadi sarana membangun komunikasi terbuka antara polisi dan masyarakat tanpa menciptakan jarak.
“Insyaallah nanti bisa seminggu sekali. Karena kami juga bermain bola, kegiatan seperti ini kami gunakan untuk berkumpul sekaligus mengedukasi teman-teman semua,” katanya.
Pendekatan ini sekaligus mengubah pola komunikasi kepolisian yang selama ini kerap terkesan formal. Diharapkan masyarakat semakin dekat dengan polisi lalu lintas dan budaya tertib berlalu lintas di Jawa Tengah dapat tumbuh dari kesadaran bersama.
Mengapa Polantas Karib Menyasar Wartawan dan Ojol?
Posisi wartawan dan pengemudi ojol dinilai strategis karena intensitas interaksinya dengan masyarakat tinggi. Pesan keselamatan yang disampaikan melalui mereka dianggap lebih organik dibandingkan seruan resmi dari panggung seremonial.
“Tujuan kami agar masyarakat semakin dekat dengan polisi lalu lintas. Kami ingin mengedukasi semua golongan dan organisasi. Termasuk teman-teman pengendara motor serta ojol, khususnya terkait budaya lalu lintas di Jawa Tengah,” tegas Maesa.
Ke depan, Ditlantas Polda Jateng akan memperkuat pola kolaborasi ini secara berkala. Ruang kemitraan tidak hanya terbuka bagi komunitas otomotif, tetapi juga LSM, kelompok pemuda, dan organisasi masyarakat lainnya.