SEMARANG — Realisasi investasi di Jawa Tengah mencapai Rp 23,02 triliun sepanjang triwulan pertama 2026. Angka itu berhasil menyerap sekitar 92.000 tenaga kerja, menjadi indikator bahwa sektor produktif di berbagai daerah mulai bergeliat.
Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Mohammad Saleh menyebut capaian ini sebagai bukti bahwa provinsi tersebut mulai menjadi magnet baru bagi investor. “Ini harus terus dijaga dengan pelayanan yang baik, kepastian regulasi, dan dukungan infrastruktur,” tegasnya dalam keterangan yang diterima, Senin (5/5/2026).
Angka Pertumbuhan Jateng di Atas Nasional
Data Badan Pusat Statistik (BPS) per 5 Mei 2026 mencatat pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah sebesar 5,89 persen secara year-on-year (yoy). Angka ini meningkat dibanding triwulan sebelumnya sekaligus melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurut Saleh, aktivitas ekonomi yang semakin kuat ini tidak lepas dari peran investasi yang masuk ke daerah-daerah. Ia menekankan bahwa momentum tersebut harus dipertahankan agar ekonomi daerah semakin inklusif dan berkelanjutan.
Pesan untuk Pemprov: Jangan Kendurkan Pelayanan
Politikus asal daerah pemilihan Jawa Tengah itu mengingatkan agar pemerintah provinsi tidak mudah berpuas diri. “Momentum ini harus terus dijaga agar ekonomi kita semakin kuat, inklusif, dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Ia mendorong agar realisasi investasi tidak hanya berhenti pada angka serapan tenaga kerja, tetapi juga berdampak pada penguatan usaha mikro dan kecil di sekitar kawasan industri. Pelayanan perizinan dan kepastian hukum disebut sebagai kunci utama mempertahankan kepercayaan investor.
Hingga saat ini, sektor industri pengolahan dan perdagangan masih menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah. Pemerintah daerah menargetkan realisasi investasi hingga akhir tahun bisa mencapai lebih dari Rp 90 triliun.