JAKARTA — Ambisi PSI memperluas basis suara di Jawa Tengah menghadapi tantangan berat meski mengandalkan figur Jokowi. Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga, menyebut setidaknya ada dua faktor utama yang membuat target itu sulit tercapai.
Pengaruh Populis Jokowi vs Ikatan Ideologis PDI-P
Faktor pertama, menurut Jamiluddin, terletak pada perbedaan karakter pengaruh antara Jokowi dan Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri di Jawa Tengah. "Pengaruh Joko Widodo (Jokowi) dan Megawati Soekarnoputri berbeda di Jateng. Jokowi lebih populis dan Megawati cenderung ideologis," jelasnya, Selasa (7/7/2026).
Pendekatan populis Jokowi dinilai mampu mendongkrak elektabilitas dalam jangka pendek. Namun, pengaruh ini tidak mengakar kuat dan berpotensi memudar seiring turunnya popularitas atau berkurangnya manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat.
Sebaliknya, Megawati memiliki basis pendukung yang dibangun melalui ikatan ideologis dan kultural PDI-P sejak era Orde Baru. "Pendekatan Megawati menciptakan hubungan yang kuat dengan massa pendukungnya. Hal itu menghasilkan pendukung militan terhadap Megawati," ujar Jamiluddin.
Hasil Pileg 2024 Jadi Bukti: PSI Hanya Raih 2 Kursi
Faktor kedua adalah hasil Pemilu Legislatif (Pileg) 2024. Saat itu, PSI hanya memperoleh dua kursi di DPRD Provinsi Jateng. Jumlah itu jauh tertinggal dari PDI-P yang berhasil mengamankan 33 kursi. "Padahal pada Pileg 2024 PSI sudah menggunakan slogan PSI partainya Jokowi," kata Jamiluddin.
Ia mengingatkan bahwa pada momentum tersebut, Jokowi masih menjabat sebagai presiden dengan modal politik, ekonomi, dan sosial yang kuat. Namun, kondisi itu belum mampu mendongkrak perolehan kursi PSI secara signifikan. "Jadi, dari perolehan kursi itu, jelas PSI akan sulit menjadikan Jateng sebagai kandangnya bila hanya mengandalkan Jokowi. Setidaknya perkiraan itu akan berlaku hingga Pileg 2029," pungkasnya.
Partai Besar Lain Saja Belum Tergoyahkan
Analisis Jamiluddin sejalan dengan pandangan Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, pada 2025. Secara historis, dominasi PDI-P dalam pemilu legislatif di Jawa Tengah belum pernah benar-benar tergoyahkan. "Jangankan PSI, partai-partai besar lain saja sampai hari ini belum bisa mengalahkan PDI-P, khususnya di pemilu legislatif," ujar Adi.
Ia mencatat, sekalipun hubungan PDI-P dengan Jokowi sempat merenggang pasca Pilpres 2024, suara legislatif partai berlambang banteng itu tetap kokoh, baik di tingkat nasional maupun di Jawa Tengah.
Target 17 Kursi dan Respons PDI-P
Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep sebelumnya mencanangkan target perolehan 17 kursi di seluruh DPRD kabupaten/kota dan provinsi Jateng pada Pemilu 2029. Target itu ia sampaikan dalam Rapat Koordinasi Wilayah PSI Jateng di Solo pada 8 Januari lalu.
Menanggapi dinamika ini, Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto menegaskan pemilu masih jauh dan keputusan akhir tetap berada di tangan rakyat. Sementara itu, safari politik Jokowi bersama PSI bukan yang pertama kali dilakukan. Sebelum rencana kunjungan ke Jateng, Jokowi telah lebih dulu melakukan tur serupa ke Lampung dan Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai bagian dari strategi memperluas basis dukungan menjelang Pemilu 2029.