SOLO — Ajang Green Impact Project 2026 menjadi panggung pembuktian bahwa mahasiswa mampu mengubah ide lingkungan menjadi solusi terukur. Sebanyak lima tim finalis memaparkan hasil implementasi proyek mereka di hadapan dewan juri, setelah melalui rangkaian panjang seleksi yang menjaring ratusan gagasan dari empat kota.
Program yang mengusung tema "Green Campus Sadar Lingkungan: Be There, Witness the Impact" ini merupakan puncak dari rangkaian kegiatan yang berlangsung sebelumnya. Sebelum tiba di babak final, para peserta terlebih dahulu mengikuti Green Narrative, Green Leader Conference, hingga tahap penyusunan dan penerapan proyek lingkungan di lapangan.
Keberanian Menjadi Bagian dari Solusi
Director Communications Djarum Foundation, Mutiara Diah Asmara, menilai antusiasme peserta terlihat dari keberagaman ide yang terkumpul. Menurutnya, proses kurasi yang ketat berhasil menyaring gagasan-gagasan terbaik untuk diimplementasikan.
"Ratusan ide terkumpul dan akhirnya gagasan itu beragam sekali, tapi akhirnya kita harus memilih," ujarnya dalam sambutan di Aula FEB UNS, Sabtu (22/8/2026).
Mutiara menegaskan bahwa kompetisi ini bukan sekadar ajang adu gagasan, melainkan wadah untuk melahirkan solusi baru atas persoalan lingkungan. Ia berharap semangat peserta tidak berhenti setelah kompetisi usai.
"Teruslah berani berpikir, berkolaborasi, menghasilkan, dan memberikan dampak. If you want to go fast, go alone. If you want to go far, go together," katanya.
Respati: Inovasi Sampah Harus Punya Model Bisnis
Wali Kota Solo Respati Ardi memberikan catatan kritis kepada para mahasiswa. Menurutnya, inovasi pengelolaan sampah tidak cukup berhenti pada produk kreatif yang hanya dipamerkan, tetapi harus memiliki keberlanjutan dari sisi bisnis.
"Yang harus ditekankan dari proyek ini adalah business model. Syaratnya, hasilnya, semuanya harus bisa berkelanjutan secara bisnis," kata Respati.
Respati menyoroti fenomena banyaknya produk daur ulang yang mendapat tepuk tangan saat dipamerkan, namun tidak jelas kelanjutannya. Ia menegaskan bahwa aspek ekonomi menjadi kunci agar inovasi lingkungan dapat bertahan dan menghidupkan masyarakat lokal.
"Semua pengolahan sampah diproses menjadi sesuatu yang kreatif, dipamerkan, kemudian mendapat tepuk tangan. Tetapi apakah setelah itu tetap dibeli? Apakah tetap digunakan?" ujarnya.
Mahasiswa Diminta Turun ke Sekolah
Orang nomor satu di Solo itu juga mendorong para mahasiswa untuk memperluas dampak program dengan turun langsung ke sekolah-sekolah. Edukasi lingkungan sejak dini dinilai penting untuk membangun kesadaran generasi muda.
"Saya ingin mengajak teman-teman mahasiswa datang ke sekolah-sekolah kita, SD dan sekolah menengah, untuk mengajari adik-adik tentang bahaya terhadap lingkungan, bahaya polusi, pencemaran air, dan berbagai persoalan lainnya," tuturnya.
Respati berharap aksi nyata yang telah dirancang para mahasiswa dapat direplikasi di berbagai tempat. Menurutnya, penanganan sampah membutuhkan perubahan cara pandang yang menyeluruh, tidak hanya fokus pada sampah baru tetapi juga menyelesaikan timbunan yang sudah ada.
"Kita harus mengatakan bahwa ini adalah revolusi. Revolusi sampah, revolusi lingkungan. Kenapa tidak?" tegasnya.
Sementara itu, pihak UNS menyatakan dukungannya terhadap keberlanjutan program ini sebagai ruang kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah, dan industri dalam menjawab tantangan lingkungan.